fbpx
4 Hal yang Harus Dilakukan Ketika Anda Sudah Divonis Kanker

4 Hal yang Harus Dilakukan Ketika Anda Sudah Divonis Kanker

Cara kerja sel kanker adalah mengelabui sistem imun kemudian berkembang biak di dalam tubuh. Di dalam kondisi tertentu, kanker bisa mengalami pertumbuhan yang luar biasa dan bisa menempel ke organ tubuh lain dengan akibat paling fatal adalah kematian. Semua risiko tersebut sebenarnya bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan ketika Anda aware mengenai gejala atau tanda-tanda penyakit kanker.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana jika sudah mengetahui bahwa seseorang sudah divonis menderita kanker? Tidak perlu khawatir, hampir semua dokter onkologi sudah mengetahui prosedur awal agar pasien tidak terlalu panik dan khawatir. Kali ini akan dibahas 4 hal yang bisa Anda lakukan setelah mengetahui bahwa Anda mengidap penyakit kanker. Apa saja hal tersebut?

Memilih dokter yang tepat

Hal pertama yang harus segera Anda lakukan ketika sudah divonis kanker adalah memilih dokter yang tepat. Saat Anda memeriksakan diri pertama kali ke dokter dan mengetahui bahwa Anda menderita kanker, Anda bisa saja memilih dokter tersebut untuk penanganan selanjutnya. Begitu pula sebaliknya, jika Anda merasa butuh second opinion atau tidak cocok dengan dokter pertama tadi, Anda bisa memilih dokter onkologi lain.

Pemilihan dokter onkologi yang tepat akan sangat membantu penanganan, penyembuhan, dan juga mengurangi risiko stres atau depresi. Pastikan dokter onkologi yang Anda pilih nantinya memberikan segala informasi yang Anda butuhkan. Misalnya jenis kanker, kenapa bisa muncul kanker, besarnya kanker, penanganan pertama pada kanker, pilihan pengobatan, kapan harus kontrol kembali, biaya yang dibutuhkan, sampai apakah jika mempunyai anak kanker tersebut bisa menular atau tidak.

Mengubah pola hidup

Ketika Anda sudah dinyatakan mengidap penyakit kanker, segera cari tahu kepada dokter apa saja hal harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Setiap jenis kanker memiliki penanganan yang berbeda-beda, misalnya kanker payudara tidak dianjurkan terlalu sering makan daging merah dan makanan yang mengandung lemak.

Selain menjaga pola makan, perlahan-lahan benahi pola tidur Anda. Dengan membuat pola tidur teratur, akan membantu meningkatkan imun tubuh. Jika memungkinkan dan diperbolehkan oleh dokter, Anda bisa berolahraga ringan seperti jogging atau bersepeda. Tetapi ingat, taati apa saja yang boleh dan tidak boleh dianjurkan oleh dokter.

Mendapatkan bantuan dari keluarga

Hal ketiga yang harus Anda lakukan adalah segara memberi tahu keluarga mengenai kanker yang Anda idap. Ada beberapa tips untuk memberi tahu keluarga mengenai kanker, pertama pastikan Anda sudah mengetahui langkah awal pengobatan kanker, kemudian Anda sudah memilih dokter serta rumah sakit untuk mengobati penyakit kanker, dan terakhir Anda sudah mengetahui solusi biaya selama pengobatan penyakit kanker.

Ketiga hal tersebut bisa Anda bicarakan kepada pasangan terlebih dahulu, baru kemudian orang tua. Setelah itu selesai, Anda bisa berbicara kepada keluarga dekat ataupun teman. Dengan mendapatkan bantuan dari keluarga, itu akan memberikan bantuan moral yang sangat baik ketika menjalani pengobatan kanker.

Kelola stres

Terakhir adalah kelola stress Anda. Ketika Anda divonis kanker, tentu itu akan menjadi pukulan yang sangat telak. Oleh karena itu, ketiga hal di atas bisa Anda lakukan terlebih dahulu agar pikiran negatif yang akan membuat Anda stress atau depresi bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan. Coba lakukan beberapa hal yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya, misalnya rekreasi ke luar kota atau mencoba hal baru seperti memancing.

Keempat hal tersebut merupakan hal yang berkesinambungan satu sama lain. Anda harus melakukannya dari awal dan berturut-turut untuk mendapatkan penanganan kanker yang baik. Tetap semangat dan selalu berpikir positif.

Hal-hal yang Harus Anda Ketahui Tentang Biopsi

Hal-hal yang Harus Anda Ketahui Tentang Biopsi

Salah satu penanganan dan pencegahan kanker paling optimal adalah biopsi. Bisa dibilang, hampir semua penanganan kanker seperti operasi, kemoterapi, atau immunterapi ini diawali dengan biopsi. Biopsi sendiri adalah tindakan diagnostik yang dilakukan dengan cara mengambil sample dari tubuh seperti jaringan atau sel yang kemudian dianalisis untuk mengetahui jenis pengobatan dan tindakan terbaik selanjutnya.

Biopsi memang terkenal sebagai alat yang sangat ampuh untuk mengenal kanker, tetapi tidak jarang penyakit seperti gagal ginjal atau sirosis hati ini juga membutuhkan biopsi. Kali ini akan dicoba dibahas bagaimana biopsi sangat berguna bagi para penderita kanker untuk mengetahui jenis dan tindakan penanganan selanjutnya oleh dokter.

Mengapa Anda harus melakukan biopsi?

Sekadar informasi, biopsi bisa dianggap sebagai salah satu alat diagnosis kanker paling mutakhir dan sangat reliable. Jika diagnosis kanker lainnya hanya memastikan besarnya kanker dan apakah kanker sudah mencapai organ tubuh lain, maka biopsi ini dilakukan untuk memastikan langkah penanganan kanker selanjutnya. Apakah kanker harus segara diangkat, menggunakan kemoterapi, atau penanganan lain.

Biopsi adalah prosedur pengambilan sebagian kecil jaringan di dalam tubuh untuk diperiksa ke dalam laboratorium. Jadi bisa dibilang biopsi adalah langkah pasti apakah seseorang ini menderita kanker atau tidak. Tidak hanya itu, biopsi mempunyai sejarah yang panjang, yaitu di tahun 1010an dan terus dilakukan hingga sekarang karena tingkat kesuksesan mendiagnosis kanker sangat tinggi.

Siapa yang harus melakukan biopsi?

Biasanya biopsi adalah diagnosis terakhir yang dilakukan para penderita kanker. Misalnya ada pasien yang sudah divonis menderita kanker payudara melalui mammogram. Untuk memastikan besarnya kanker payudara, penyebab munculnya tumor, dan bagaimana penanganan tumor ini selanjutnya, maka pasien kanker tersebut harus segera melakukan biopsi.

Walaupun begitu, tidak semua pasien kanker juga tidak wajib menjalani biopsi jika memang alat diagnosis lain sudah cukup memberikan analisis kepada dokter. Jadi apakah seseorang wajib menjalani biopsi atau tidak ini memang harus melalui anjuran dari dokter onkologi terlebih dahulu. Apalagi sekarang waktu diagnosis biopsi ini cukup lama, yaitu sekitar 1-2 minggu.

Ada hal menarik lainnya mengenai biopsi, seperti dijelaskan di awal bahwa biopsi ini tidak dilakukan untuk penderita kanker saja. Biopsi juga bisa dilakukan untuk melihat apakah pasien ini menderita gagal ginjal, sirosis hati, penyakit kulit, atau bahkan penyakit paru.

Apakah biopsi berbahaya?

Metode biopsi ini bermacam-macam, ada yang menggunakan jarum kecil untuk mengambil jaringan, dengan cara pembedahan, endoskopi yaitu memasukkan kamera kecil untuk melihat bagian dalam tubuh, atau mengerok jaringan di permukaan kulit. Nah di antara banyak metode tersebut, biopsi sebenarnya memiliki risiko yang sangat kecil, yaitu risiko pendarahan.

Risiko biopsi adalah pendarahan ketika dilakukan pengambilan jaringan ataupun kesemutan setelah dilakukannya biopsi, tetapi efek samping biopsi tersebut sangat jarang ditemui. Apalagi sekarang prosedur dan alat medis sudah sangat modern, sehingga munculnya efek samping biopsi ini sangat jarang. Jadi Anda tidak perlu takut untuk melakukan biopsi, ditambah lagi jaringan di dalam tubuh yang diambil untuk proses biopsi ini juga sangat kecil.

Biopsi sampai sekarang menjadi salah satu alat diagnosis yang sangat bagus bagi para penderita kanker. Jadi ketika Anda sudah divonis menderita kanker, Anda bisa bertanya kepada dokter onkologi apakah perlu dilakukan biopsi atau tidak. Semoga serba-serbi biopsi di atas bisa sedikit memberikan pencerahan kepada Anda.

Mulai Serang Millenial, Apa Gejala dari Kanker Usus Besar?

Mulai Serang Millenial, Apa Gejala dari Kanker Usus Besar?

Akhir tahun 2019 kemarin Rumah Sakit Umum Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) memberikan penjelasan bahwa pasien termuda yang terkena kanker usus besar adalah berusia 24 tahun. Ini adalah hal yang sangat mengagetkan karena biasanya pasien yang menderita kanker usus besar ini berusia rata-rata 40 tahun ke atas. Salah satu hal yang paling disorot mengenai kanker usus besar yang diderita millennial adalah pola hidup yang kurang sehat.

Jika dilihat dari penyebab kanker usus besar, seperti pola makan yang tidak teratur, terlalu sering mengonsumsi daging merah/lemak, merokok, dan jarang olahraga tentu itu adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh millennial. Ingin serba instan membuat gerak tubuh sangat kurang dan membuat permasalahan pada pencernaan. Sebelum Anda sebagai millennial ataupun yang sudah menginjak paruh baya, simak ya gejala kanker usus besar yang mungkin Anda sering tidak ketahui.

Gejala dan penyebab kanker usus besar

Seperti dijelaskan di awal, penyebab kanker usus besar adalah buruknya pola makan sehari-hari. Apalagi ditambah Anda sangat malas untuk berolahraga, menjaga kebersihan, merokok, dan terlalu banyak mengonsumsi daging berlemak. Kanker usus besar ini diawali dengan munculnya tumor jinak yaitu polip. Jika kondisi imun tubuh turun dan ditambah kebiasaan jelek di atas masih terus Anda lakukan, polip akan menjadi tumor ganas dan bisa menjadi kanker usus besar.

Untuk mencegah hal tersebut, Anda bisa mengantisipasi sejak dini dengan melihat beberapa gejala kanker usus besar di bawah ini.

  • Diare atau sembelit

Gejala awal kanker usus besar adalah diare atau sembelit. Anda mungkin sesekali mengalami diare atau sembelit, misalnya karena makan terlalu pedas atau asam. Tetapi jika Anda merasa bahwa tidak ada makanan yang aneh, tetapi Anda terus merasa diare atau sembelit, itu tandanya ada masalah pada saluran pencernaan Anda.

  • Perut kembung

Sama seperti gejala awal, perut kembung sering muncul ketika Anda telat makan. Tetapi jika perut kembung ini muncul terlalu sering, ada baiknya Anda waspada dan memeriksakan ke dokter jika ternyata tidak kunjung sembuh selama 3-4 hari.

  • Kram sampai sakit perut

Gejala paling sering muncul pada kanker usus besar adalah kram atau sakit perut. Ketika sel kanker sudah mulai berkembang dan menyerang saraf, salah satu efek yang sering muncul adalah kram dan sakit perut. Bahkan dalam beberapa kasus, kram dan sakit perut ini bisa muncul dan sembuh secara tiba-tiba.

  • BAB berdarah

Gejala terakhir yang berbahaya adalah BAB atau buang air besar berdarah. Sebenarnya Anda bisa melihat kesehatan tubuh Anda dari BAB. Apakah Anda lancar BAB dan bagaimana bentuknya? Jika ternyata BAB Anda sampai berdarah, berarti ada masalah dengan saluran pencernaan.

Dari keempat gejala di atas, Anda bisa memastikan apakah Anda terkena kanker usus besar atau tidak dengan cara diagnosis awal. Untuk kanker usus besar, Anda bisa melakukan CT Scan dan foto rontgen untuk melihat apakah Anda terkena kanker usus besar atau tidak.

Semoga artikel di atas bisa sedikit memberikan gambaran bagaimana kanker usus besar ini sudah mulai menyerang anak muda. Benahi pola makan dan sempurnakan dengan pola hidup sehat. Semoga Anda dan keluarga bisa terhindar dari kanker usus besar.

Mengenal Kanker Paru, Apakah Hanya Terjadi Kepada Perokok?

Mengenal Kanker Paru, Apakah Hanya Terjadi Kepada Perokok?

Salah satu alat pencegahan penyakit paling akrab di telinga masyarakat Indonesia adalah kalimat yang ada pada bungkus rokok, salah satunya adalah menyebabkan kanker paru. Berdasarkan data dari nhs.uk, sebuah situs kesehatan terbesar di Inggris ini menyebutkan setidaknya ada 20% sampai 25% penderita kanker paru dialami oleh bukan perokok. Ada beberapa sebab, mulai dari perokok pasif, faktor genetik, polusi udara, ataupun gas kimia yang berbahaya.

Pada intinya, kanker paru ini bisa menyerang siapa saja selain para perokok. Di artikel kali ini kami akan mencoba sedikit menjabarkan bagaimana sebenarnya apa yang dimaksud dengan kanker paru, gejala yang dihadapi, penanganan pertama, sampai pengobatan. Simak di sini ya.

Kenapa bisa muncul kanker paru?

Seperti dijelaskan di awal, bahwa hampir 80% penderita kanker paru ini disebabkan oleh perokok tembakau. Menurut buku dari Peto R yang berjudul Mortality from smoking in developed countries 1950–2000, menjelaskan bahwa selama tahun 2000an kematian yang disebabkan oleh penderita kanker ini didominasi oleh para perokok. Jadi bisa disebutkan bahwa kandungan berbahaya di dalam rokok tembakau ini menjadi pemicu utama terjadinya kanker paru.

Lalu apakah ada faktor lain? Jelas ada. jika Anda berada di lingkungan para perokok, Anda juga akan mendapatkan kemungkinan terkena kanker paru. Walaupun jumlahnya sangat sedikit yaitu sekitar 10% dari total penderita kanker paru, tetapi persentase kemungkinan terkena kanker paru itu ada. Faktor lain yang tidak boleh Anda diremehkan antara lain faktor genetik atau keturunan, Anda berada di lingkungan zat kimia yang berbahaya, sering terkena polusi udara, dan pernah menjalani radioterapi.

Gejala kanker paru

  • Batuk tidak kunjung sembuh

Salah satu gejala awal dari kanker paru adalah batuk yang tidak kunjung sembuh. Batuk sendiri sebenarnya bisa muncul karena beberapa faktor, pertama faktor imun tubuh yang turun sehingga Anda terkena flu, TBC, kemudian bisa juga karena radang, lalu yang paling membahayakan adalah terkena kanker paru. Jika Anda merasa menderita batuk yang tidak kunjung sembuh selama kurang lebih 2 minggu, Anda bisa periksa ke dokter umum ataupun spesialis.

  • Batuk darah

Gejala selanjutnya adalah batuk darah. Ketika Anda sudah mulai merasakan batuk berdahak disertai bercak merah, itu berarti ada peradangan di tenggorokan atau paru-paru Anda bermasalah. Walaupun begitu, Anda jangan menganggap remeh batuk darah ya, segera komunikasikan dengan dokter.

  • Nyeri dada dan sekitar tulang

Ada beberapa jenis nyeri yang ada di sekitar dada. Jika Anda merasa nyeri di dada bagian kiri, kemungkinan ada masalah pada aliran darah pada jantung atau paru-paru. Namun jika Anda mengalami nyeri di dada kanan dan kiri, ada kemungkinan besar Anda mempunyai masalah pada paru-paru. Apalagi jika nyeri muncul setiap saat, segara konsultasikan kepada dokter spesialis.

  • Sesak napas

Gejala terakhir adalah sesak napas. Ketika Anda sudah mulai sering mengalami komplikasi gejala seperti di atas, segera periksa ke dokter spesialis paru atau dokter onkologi untuk segera mendapatkan diagnosis awal.

Cara diagnosis dan penanganan kanker paru

Ada beberapa cara untuk mendiagnosis kanker paru. Pertama ada CT Scan, foto rontgen, dan terakhir adalah biopsi pengambilan jaringan paru. Dari ketiga diagnosis di atas, dokter onkologi atau spesialis paru bisa melihat apa saja penanganan lebih lanjut. Beberapa cara penanganan penyakit paru ini antara lain adalah kemoterapi, imunoterapi, dan operasi.

Itulah beberapa hal yang penting untuk Anda ketahui tentang gejala kanker paru, diagnosis, sampai penanganannya. Walaupun Anda bukan perokok, jika Anda sering menjadi perokok pasif, bukan berarti Anda bebas terkena risiko kanker paru. Menjaga pola hidup sehat akan sangat membantu mencegah munculnya kanker.

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Sudah Mengidap Kanker Payudara Stadium 4

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Sudah Mengidap Kanker Payudara Stadium 4

Kanker payudara menjadi salah satu penyakit paling mematikan bagi para wanita. Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa setiap 100 ribu penduduk, 42,1 di antaranya akan terkena kanker payudara. Tidak hanya itu, kematian akibat kanker payudara ini mencapai 17 orang per 100 ribu penduduk yang terkena kanker payudara. Salah satu akibat banyaknya penderita kanker payudara yang meninggal dunia adalah terlambatnya penanganan dan kurangnya pengetahuan tentang kanker payudara.

Salah satu hal yang paling penting mengenai penyakit kanker adalah kesadaran dan penanganan. Semakin dini Anda mengetahui gejala penyakit kanker, tentu itu akan semakin bagus bagi dokter untuk melakukan tindakan pencegahan atau bahkan penyembuhan. Artikel kali ini akan mencoba membahas bagaimana jika Anda sudah terkena kanker payudara stadium IV, apa yang harus Anda lakukan?

Kondisi kanker stadium IV

Kanker stadium IV bisa juga dengan kanker stadium akhir. Kondisi kanker stadium IV adalah sel kanker telah menyebar jauh tidak hanya ke payudara, tetapi juga ke kelenjar getah bening dan organ tubuh lain. Biasanya kanker payudara stadium IV ini sel kankernya sudah menyebar ke paru-paru, hati, tulang, atau ada beberapa kasus sudah menyebar ke otak. Lalu bagaimana dengan kondisi payudara? Dalam beberapa kasus, kanker payudara stadium IV ini ada yang memiliki benjolan cukup besar, tetapi ada pula yang terlihat normal.

Kemungkinan sembuh setelah 5 tahun masih cukup besar 

Kanker payudara adalah salah satu concern utama bagi para peneliti, karena termasuk jenis kanker paling umum terjadi di dunia. Oleh karena itu setiap tahunnya pasti ada obat kemoterapi atau diagnosis baru mengenai penanganan kanker payudara. Menurut American Cancer Society, angka kematian terhadap kanker payudara ini setiap tahunnya semakin menurun. Ini tentu menjadi kabar yang menggembirakan, walaupun begitu Anda harus sering berkonsultasi terhadap dokter.

Langkah yang harus segera Anda lakukan

  • Terus berkonsultasi dengan dokter

Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah terus berkomunikasi dan berkonsultasi dengan dokter. Penderita kanker stadium IV memiliki risiko kematian yang cukup besar, oleh karena itu Anda harus mengerti bagaimana cara menghambat pertumbuhan kanker dengan cara yang bermacam-macam. Misalnya menjaga pola makan atau menambah porsi olahraga.

  • Mencari tahu informasi tindakan penanganan segera

Dokter onkologi biasanya sudah mengetahui bagaimana penanganan untuk pasien kanker payudara stadium IV. Beberapa penanganannya antara lain adalah kemoterapi yang biasanya menjadi obat utama penanganan kanker stadium lanjut.

Kemudian terapi hormon yang akan diberikan jika sel kanker tumbuh karena ada pengaruh hormon yang ada di dalam tubuh. Selanjutnya ada terapi radiasi yang bertujuan untuk menghambat penyebaran sel kanker. Terakhir ada operasi yang biasanya dilakukan ketika ukuran dan lokasi tumor masih dapat dioperasi.

  • Komitmen untuk melakukan terapi

Hal terakhir yang harus Anda lakukan adalah komitmen. Memiliki kanker payudara stadium IV ini sangat bergantung dengan terapi, oleh karena itu Anda harus konsisten dan berkomitmen dalam menjalani terapi. Jangan sampai Anda malas atau bahkan lupa untuk menjalani terapi.

Tentu tidak mudah menjalani pengobatan dan penanganan kanker payudara stadium IV. Tetapi dengan pengobatan yang mutakhir dan kesempatan hidup yang setiap tahun terus meningkat, tentu itu akan menjadi titik cerah Anda untuk sembuh. Semoga artikel di atas bisa memberikan pencerahan bagi Anda.

Imunoterapi, Pengobatan Kanker yang Mendorong Kerja Imun

Imunoterapi, Pengobatan Kanker yang Mendorong Kerja Imun

Pertanyaan kenapa kanker bisa berkembang biak dengan cepat dan sangat berbahaya adalah sel kanker ini ternyata tidak terdeteksi oleh sistem imun tubuh. Setiap manusia memiliki jenis imun yang berbeda-beda, ada yang sangat kuat dan ada pula yang sangat rendah karena faktor kebiasaan buruk sebelumnya. Nah untuk memperbaiki imun tersebut ada banyak cara, salah satunya adalah dengan menggunakan imunoterapi.

Imunoterapi bisa dibilang adalah pengobatan kanker terbaru dan sudah mendapatkan banyak pengakuan dari beberapa rumah sakit dan ilmuwan di seluruh dunia. Bahkan bisa dibilang imunoterapi ini mempunyai efek samping yang sangat rendah dan tingkat kebersihan yang cukup tinggi. Sekarang simak ya bagaimana imunoterapi ini bisa terbentuk dan kapan Anda bisa menggunakan imunoterapi.

Sejarah munculnya imunoterapi

Walaupun imunoterapi ini booming di tahun 2015an di Indonesia dan beberapa negara asia lainnya, tetapi sejatinya imunoterapi atau terapi imun ini sudah ada sejak tahun 80an. Bahkan ide untuk memanfaatkan sistem imun untuk melawan kanker ini sudah muncul di tahun 1891 oleh William B. Coley yang sekarang disebut sebagai bapak imunoterapi. Ide tersebut kemudian berkembang dan memiliki jenis terapi yang bermacam-macam.

Sekarang Anda mungkin mengenal berbagai macam imunoterapi, mulai dari antibodi, vaksin, checkpoint inhibitor, sampai imunoterapi non spesifik. Bahkan sampai sekarang masih banyak penelitian yang bisa memperkuat imunoterapi.

Manfaat imunoterapi

  • Imunoterapi diklaim menjadi pengobatan paling efektif untuk mengobati maupun mengurangi sel kanker. Sel kanker yang terus berkembang akibat imun di dalam tubuh yang menganggap sel kanker adalah sel baik, akan dibenahi oleh imunoterapi.
  • Imunoterapi juga dapat membantu sistem kerja obat atau terapi lain. Misalnya pasien kanker ini sedang melakukan kemoterapi, maka dengan melakukan imunoterapi, maka kemoterapi bisa lebih optimal, karena obat akan bekerja maksimal.
  • Imunoterapi juga dinilai memiliki risiko atau efek samping yang lebih sedikit dibandingkan penanganan kanker lainnya.
  • Imunoterapi juga sangat cocok untuk penderita kanker yang takut sel kanker muncul kembali. Guna kemoterapi yang memperkuat sel imun di dalam tubuh akan mencegah sel kanker yang sama berkembang kembali. Jadi banyak dokter yang menyarankan untuk melakukan imunoterapi agar sel kanker tidak muncul kembali.

Kapan Anda harus melakukan imunoterapi?

Pertanyaan penting selanjutnya adalah kapan Anda harus melakukan imunoterapi? Hal pertama yang harus Anda ketahui adalah tidak semua orang atau penderita kanker bisa melakukan imunoterapi. Sebelum melakukan imunoterapi, Anda harus mengetahui obat imun yang cocok ke dalam tubuh Anda. Oleh karena itu sampai sekarang masih banyak peneliti yang mengeluarkan obat imunoterapi baru yang cocok terhadap tubuh pasien kanker.

Jika Anda sudah mendapatkan obat imun yang cocok, Anda bisa segera melakukan terapi ium selama beberapa bulan. Efek samping yang dihasilkan juga cukup ringan, yaitu gatal-gatal dan juga pusing. Boleh dibilang, imunoterapi adalah harapan baru bagi pasien kanker yang ada di seluruh dunia.

Sekali lagi apapun pengobatan yang Anda lakukan, Anda harus terus berkonsultasi dan berkomunikasi dengan dokter onkologi. Tidak semua jenis kanker bisa disembuhkan dengan imunoterapi, jadi Anda harus selalu update dengan berkembangan yang ada. Semoga artikel serba-serbi mengenai imunoterapi di atas bisa memberikan pencerahan bagi Anda.