fbpx
Anemia Pasca Kemoterapi? Begini Cara Atasinya!

Anemia Pasca Kemoterapi? Begini Cara Atasinya!

Kemoterapi merupakan salah satu treatment yang umum digunakan dalam mengobati kanker. Cara kerja kemoterapi yaitu dengan menggunakan obat-obatan tertentu untuk menghentikan atau menghambat pertumbuhan sel-sel kanker di dalam tubuh. Tidak dapat dipungkiri, kemoterapi berperan penting dalam melawan kanker, meskipun begitu kemoterapi juga berisiko memiliki efek samping bagi mereka yang menjalaninya.

Mulai dari kerontokan rambut, gangguan pencernaan, gangguan kesuburan, hingga yang menjadi topik bahasan artikel ini yaitu anemia. Namun, efek samping kemoterapi ini akan berbeda-beda pada setiap orang, bergantung pada berbagai kondisi seperti umur, gaya hidup, dan riwayat kesehatan sebelumnya.

Timbulnya anemia sebagai efek samping pasca kemoterapi sangat mungkin terjadi karena proses kemoterapi sendiri berdampak pada menurunnya jumlah sel darah merah. Padahal salah satu fungsi utama eritrosit atau sel darah merah adalah mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh. Ketika jumlahnya berkurang, tentu tubuh akan kekurangan pasokan oksigennya, dan terjadilah anemia.

Ada beberapa tanda yang menunjukkan tubuh terkena anemia, menurut nhs.uk tanda-tanda itu di antaranya adalah:

  • Mudah merasa lelah berlebihan
  • Tubuh mudah lemas
  • Nafas menjadi lebih pendek
  • Detak jantung tidak beraturan
  • Kulit memucat

Untuk mengatasi kondisi anemia pasca kemoterapi ini, Anda dapat menerapkan beberapa tips yang kami rekomendasikan berikut:

  1. Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung zat besi
    Sayur hijau, hati, dan daging merah merupakan beberapa makanan yang banyak mengandung zat besi yang sangat dibutuhkan oleh pasien pasca kemoterapi. Pasalnya zat besi dapat membantu darah mengangkut lebih banyak oksigen.
  2. Cukupi kebutuhan tidur berkualitas
    Bukan sekadar soal durasi panjang atau pendeknya tidur, melainkan kualitasnya. Memiliki pola tidur yang baik dapat meningkatkan kualitasnya, salah satunya dengan membangun rutinitas seperti tidur sebelum larut malam, bangun lebih pagi, hingga menghindari screentime (baik TV atau smartphone) sebelum tidur.
  3. Tetap berolahraga (hindari olahraga berat)
    Sekilas, rekomendasi ini terlihat kontradiksi untuk mengatasi kelelahan akibat anemia dan justru menambah lelah. Tapi berolahraga terbukti dapat membantu mengatasi kelelahan pasca kemoterapi. Sebagai catatan, sebaiknya hindari olahraga dengan intensitas berat dan lakukan aktivitas olahraga ringan untuk melatih ketahanan tubuh seperti jogging atau berenang.
  4. Konsumsi suplemen zat besi
    Menambah konsumsi zat besi melalui suplemen juga dapat Anda lakukan untuk mengatasi anemia. Dengan tujuan yang sama seperti mengonsumsi makanan-makanan kaya zat besi, konsumsi suplemen zat besi juga diharapkan dapat membantu darah mengikat lebih banyak oksigen dan mengalirkannya ke seluruh tubuh.

Jika gejala anemia tidak juga kunjung membaik, Anda dapat segera berkonsultasi dengan dokter dokter ahli kami di RS Adi Husada Cancer Center untuk penanganan selanjutnya.

Membutuhkan informasi seputar kanker? Anda dapat mengunjungi Adi Husada Cancer Center (AHCC) Surabaya atau hubungi kami melalui WA: 0822-8888-6922. AHCC merupakan pusat layanan kanker terintegrasi swasta pertama di Indonesia Timur yang memiliki tenaga medis handal dan aneka peralatan medis berstandar internasional. Kami siap membantu dan melayani Anda.

Jangan Sepelekan Sakit Kepala Berulang, Waspada Gejala Kanker Otak

Jangan Sepelekan Sakit Kepala Berulang, Waspada Gejala Kanker Otak

Sering sekali kita jumpai ada orang mengeluhkan sakit kepala yang terjadi berulang kali dan menganggap bahwa apa yang ia alami tersebut merupakan sakit kepala biasa. Sakit kepala karena flu, kecapekan atau bahkan sakit kepala karena masuk angin. Padahal sakit kepala yang terjadi berulang kali tersebut harus diwaspadai karena ada kemungkinan adalah gejala adanya kanker otak.

Kanker otak adalah  tumor ganas yang ada didalam kepala. Kasus yang paling sering terjadi adalah kanker otak jenis Glioma, yaitu kanker yang berasal dari sel-sel otak sendiri.

Lalu bagaimana ciri sakit kepala yang merupakan gejala kanker otak?

Sakit atau nyeri kepala yang merupakan gejala kanker otak paling sering dikeluhkan terjadi menjelang dini hari. Kemudian nyeri kepala ini akan diikuti oleh gejala lain seperti mata berkunang-kunang, pandangan kabur atau kelemahan anggota tubuh serta keluhan lainnya. Karena tumor berkembang cukup invasif atau ganas, biasanya gejala-gejala yang muncul ini cepat menjadi parah. Pengidap akan merasakan kelainan atau keluhannya semakin sering dan semakin banyak serta kondisi Kesehatan pengidap semakin menurun.

Terkait penyebab kanker otak, hingga saat ini belum ada leteratur yang mengatakan apa penyebab pasti kanker otak. Namun banyak teori yang mengatakan, terjadinya mutasi gen di jaringan otak membuat sel otak tumbuh tak terkontrol. Pola hidup, asupan makanan dan kemungkinan juga pengaruh radiasi dan bahan kimia secara umum dikaitkan menjadi penyebab munculnya kanker otak, tetapi tidak dapat dihubungkan dengan pasti.

Saat terjadi sakit kepala berulang, apa yang harus dilakukan?

Karena tidak serta merta sakit kepala berulang yang terjadi adalah kanker otak, maka perlu dilakukan serangkaian pemeriksaan untuk mendiagnosa apakah sakit atau nyeri kepala itu merupakan gejala kanker otak. Saat ini pemeriksaan yang dilakukan untuk skrining kanker otak adalah dengan MRI Kepala. Jadi dianjurkan bagi Anda yang mengalami keluhan sakit kepala atau kelainan saraf yang lain untuk segera memeriksakan ke dokter agar dilakukan pemeriksaan CT Scan atau MRI jika ditemukan kelainan yang mencurigakan.

Bisa saja saat pemeriksaan dokter akan menemukan adanya kelainan yang meragukan yang belum dipastikan apakah itu tumor atau kanker. Untuk itu dokter akan menganjurkan untuk mengulang MRI setelah beberapa waktu. Saat ini MRI masih menjadi pemeriksaan utama untuk mendiagnosa kanker karena MRI lebih peka dalam mendeteksi kanker otak dibandingkan CT Scan. MRI sudah dapat mendeteksi perubahan kecil pada otak walaupun ukurannya kurang dari 1 cm.

Saat seseorang dinyatakan positif mengidap kanker otak, rangkaian langkah pengobatan akan diambil oleh dokter. Hanya saja pengobatan kanker ini bergantung pada jenis kanker tersebut. Ada kanker otak yang cukup dengan di Radioterapi (sinar), atau cukup degan kemoterapi (obat), tetapi pada kebanyakan kasus memerlukan tindakan pembedahan baru kemudian diikuti radioterapi dan kemoterapi.

Karena hingga kini penyebab pasti kanker otak ini belum diketahui maka dianjurkan untuk melakukan pencegahan kanker otak dengan menjalani pola hidup sehat, pola makan sehat dan tinggal dilingkungan yang sehat pula. Harapannnya dapat meminimalisir faktor risiko kanker otak.

 ***

Artikel ini merupakan bagian dari program Doctor Guest Blog Post, artikel tulisan dari dokter mitra AHCC. Tujuan program ini adalah membagikan literasi terkait kanker dan penangannnya dari sumber kredibel ke masyarakat luas melalui platform media online.

Seluruh tulisan dalam post ini dapat dipertanggungjawabkan dan menjadi tanggungjawab langsung tim pemasaran AHCC.

Ingin mempublikasikan tulisan Anda di AHCC? Anda dapat menguhubungi tim pemasaran AHCC di nomor WA 085172266911

Ilustrasi foto pressfoto dari Freepik

Tentang Penulis

Prof. Dr. Abdul Hafid Bajamal, dr., Sp.BS (K)

Prof. Dr. Abdul Hafid Bajamal, dr., Sp.BS (K)

Dokter spesialis bedah saraf konsultan

Jangan Disepelekan! 5 Kebiasaan Ini Berisiko Tingkatkan Gangguan Kesehatan

Jangan Disepelekan! 5 Kebiasaan Ini Berisiko Tingkatkan Gangguan Kesehatan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa rutinitas kita sehari-hari sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan. Sayangnya, meskipun mayoritas kita mengetahui hal ini, masih banyak pula yang enggan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat dan tetap memilih melakukan kebiasaan-kebiasaan tidak sehat yang berpotensi mengganggu kesehatan hingga muncul penyakit kronis.

Dilansir dari Eat This, berikut adalah beberapa kebiasaan tidak sehat yang sadar tidak sadar masih banyak dilakukan oleh masyarakat kita yang dapat memicu gangguan kesehatan bahkan penyakit kronis:

Pola Tidur Berantakan

Pada kehidupan masyarakat modern seperti sekarang ini, tidak sedikit yang kekurangan waktu tidur berkualitas dengan berbagai macam alasan. Padahal kualitas tidur yang baik dapat sangat membantu organ-organ tubuh kembali segar dan menguatkan sistem kekebalannya. Waktu tidur yang berkurang pastinya berakibat pada kualitasnya sekaligus mengurangi kesempatan bagi tubuh untuk recovery setelah beraktivitas seharian.

Pola Makan Tidak Sehat & Seimbang

Kebiasaan mengonsumsi makanan & minuman yang tinggi gula sepertinya juga sudah menjadi pemandangan umum di masyarakat kita. Padahal tingginya konsumsi gula ini seperti diketahui dapat meningkatkan risiko terkena diabetes. Selain gula, tingginya konsumsi garam juga dapat berpengaruh buruk bagi tubuh karena berpotensi hadirkan hipertensi, serangan jantung hingga stroke. Menjaga pola makan tetap sehat dengan gizi seimbang adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari penyakit-penyakit tersebut.

Buruk Dalam Mengelola Stres

Dalam satu penelitian yang diterbitkan pada jurnal BMJ Open pada 2020 lalu menyebutkan bahwa ketidakmampuan dalam mengelola stres dapat memotong umur Anda rata-rata 2,5 tahun. Ini dikarenakan stres yang tidak terkelola dengan baik memengaruhi respon peradangan dalam tubuh dan meningkatkan risiko terkena kanker, penyakit jantung, hingga demensia.

Kurangnya Aktivitas Fisik

Masyarakat modern yang lebih banyak duduk bekerja di depan layar dan kurang bergerak juga berpengaruh pada semakin tingginya angka pengidap penyakit kronis belakangan saat ini. Hal ini berhubungan dengan terjadinya pembekuan darah ketika tubuh jarang bergerak.

Kebiasaan Merokok

Kandungan nikotin pada rokok dapat mempersempit pembuluh darah. Nikotin berpotensi membuat darah mengental sebelum akhirnya membeku. Efek dari penyempitan ini adalah terhambatnya aliran darah menuju jantung. Selain kebiasaan merokok, kebiasaan mengonsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit kronis hingga kanker.

Selain 5 kebiasaan di atas, sebenarnya masih ada banyak lagi kebiasaan tidak sehat yang sebaiknya Healthy People hindari mulai sekarang demi menjaga kesehatan. Agar kesehatan tubuh semakin terjaga, Anda juga dapat mulai rutin melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check-up) dengan begitu permasalahan kesehatan juga dapat diketahui lebih dini dan membantu perawatannya lebih tepat.

Membutuhkan informasi seputar kanker? Anda dapat mengunjungi Adi Husada Cancer Center (AHCC) Surabaya atau hubungi kami melalui WA: 0822-8888-9300. AHCC merupakan pusat layanan kanker terintegrasi swasta pertama di Indonesia Timur yang memiliki tenaga medis handal dan aneka peralatan medis berstandar internasional. Kami siap membantu dan melayani Anda.

Kebiasaan Makan Dan Minum Yang Panas Sebabkan Kanker Esofagus? Cari Tahu Faktanya, Yuk!

Kebiasaan Makan Dan Minum Yang Panas Sebabkan Kanker Esofagus? Cari Tahu Faktanya, Yuk!

Apakah Anda termasuk salah satu orang yang suka konsumsi makanan dan minuman panas? Apalagi kalau cuaca sedang dingin-dinginnya, mengonsumsi yang panas-panas memang rasanya jadi lebih nikmat ya. Tapi, mulai saat ini, kami sarankan bagi Anda untuk mengurangi kebiasaan itu ya, Healthy People.

Pasalnya, suhu yang terlalu panas ditengarai dapat memicu meningkatnya risiko tumbuhnya sel kanker. Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam International Journal of Cancer pada tahun 2019 lalu di Iran, menjelaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman yang sangat panas dapat meningkatkan risiko terkena kanker esofagus hingga sebesar 90 persen.

Studi ini menguatkan temuan WHO sebelumnya pada tahun 2016 yang juga mengatakan bahwa makanan dan minuman dengan suhu 60 derajat Celcius atau lebih mengandung karsinogen yang meningkatkan risiko kanker esofagus.

Kanker esofagus sendiri terjadi ketika muncul pertumbuhan sel yang tidak wajar pada area esofagus (kerongkongan). Hingga saat ini penyebab pastinya kanker esofagus masih belum bisa diketahui, namun ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan potensi terkena kanker ini selain kebiasaan konsumsi makanan dan minuman dalam suhu panas yaitu:

  • Kebiasaan merokok
  • Konsumsi alkohol berlebihan
  • Ada kelainan di esofagus seperti Barret’s esophagus
  • Obesitas
  • Kekurangan serat
  • Pernah melakukan radioterapi khususnya di bagian leher

Berkaitan dengan konsumsi makanan dan minuman panas, berikut ada beberapa tips agar Anda tetap dapat menikmatinya dengan aman dan meminimalisir risiko kanker esofagus:

  1. Diamkan dulu sekitar 5-10 menit hingga letupan didih atau kepulan asap dari makanan/minuman berkurang.
  2. Usahakan Anda baru mengonsumsinya ketika suhunya sudah di bawah 60 derajat. Anda dapat memanfaatkan termometer khusus masak untuk mengecek suhu pada makanan/minuman itu.
  3. Untuk minuman, Anda bisa juga memindahkannya ke wadah yang lebih lebar (seperti lepek/alas cangkir) agar suhunya turun lebih cepat.

Membutuhkan informasi seputar kanker? Anda dapat mengunjungi Adi Husada Cancer Center (AHCC) Surabaya atau hubungi kami melalui WA: 0822-8888-9300. AHCC merupakan pusat layanan kanker terintegrasi swasta pertama di Indonesia Timur yang memiliki tenaga medis handal dan aneka peralatan medis berstandar internasional. Kami siap membantu dan melayani Anda.

Photo by Erik Witsoe on Unsplash
Ternyata Ini Alasan Lansia Lebih Berisiko Kanker Darah!

Ternyata Ini Alasan Lansia Lebih Berisiko Kanker Darah!

Pada kenyataannya kanker darah dapat menyerang siapa saja, tidak terbatas usia dan gender. Tapi menurut penelitian National Cancer Institute, golongan lansia (65-74 tahun) lebih rentan terhadap penyakit ini dibandingkan kelompok umur di bawahnya. Masih dari data penelitian yang sama, usia rata-rata mereka saat divonis kanker darah adalah 66 tahun.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Global Cancer Observatory WHO pada tahun 2018 yang lalu, kanker darah menyebabkan kematian hingga 11.314 jiwa di Indonesia. Angka ini menjadi yang tertinggi kelima setelah kanker paru, kanker payudara, kanker serviks, dan kanker hati. Angka ini juga diperkirakan akan semakin bertambah mengingat perkiraan jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2045 mendatang, sesuai data BPS akan meningkat sebanyak 19.9%.

Berdasarkan data-data di atas, sebenarnya kenapa sih kelompok lansia ini lebih rentan terhadap kanker darah? Secara umum penyebab pasti kanker darah sebenarnya sampai saat ini masih belum diketahui juga. Tapi salah satu hal yang menjadi perhatian untuk menjawab pertanyaan kerentanan lansia akan kanker darah adalah terjadinya penurunan sistem kekebalan tubuh seiring bertambahnya usia.

Fungsi-fungsi organ tubuh juga umumnya mengalami penurunan dan tidak dapat bekerja seoptimal saat masih muda. Penurunan fungsi ini memengaruhi kemampuan tubuh manusia dalam menolerir munculnya penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi seperti salah satunya adalah kanker darah.

Gambaran Kanker Darah Pada Lansia

Perlu diketahui, ada 3 (tiga) jenis kanker darah yang dapat menyerang siapa saja, termasuk lansia yaitu:

  • Leukimia, kanker ini terjadi karena tubuh memproduksi sel darah putih secara berlebihan sehingga fungsi utamanya dalam melawan infeksi justru terganggu dan malah merusak sumsum tulang.
  • Lymphoma, kanker darah lymphoma (limfoma) adalah kanker darah yang lebih sering terjadi pada orang dewasa. Kanker ini memengaruhi kerja limfosit pada sistem limfatik. Gejala kanker limfoma sering tidak disadari karena banyak yang menganggapnya seperti penyakit biasa.
  • Myeloma, dikenal juga dengan nama kanker sel plasma. Hal ini dikarenakan kanker ini muncul akibat dari tubuh yang membuat terlalu banyak sel plasma yang berkembang dari limfosit ke sumsum tulang. Kanker sel plasma ini menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menjadi mudah terserang infeksi.

Kanker darah pada lansia umumnya memiliki risiko keparahan yang tinggi seringkali dikarenakan tidak adanya gejala atau tanda spesifik yang tidak disadari sehingga penegakan diagnosisnya pun ikut terlambat. Dampaknya? Penanganan yang tepat pun tidak bisa diberikan tepat waktu.

Jadi sebaiknya Anda, khususnya apabila sudah berusia lanjut, ketika mengalami gejala-gejala seperti demam berulang, nyeri tulang, sering keringat dingin di malam hari atau terjadi penurunan berat badan secara drastis tidak menganggapnya remeh dan segera memeriksakannya ke dokter untuk mendapatkan penanganan tepat lebih cepat.

Membutuhkan informasi seputar kanker? Anda dapat mengunjungi Adi Husada Cancer Center (AHCC) Surabaya atau hubungi kami melalui WA: 0822-8888-6922. AHCC merupakan pusat layanan kanker terintegrasi swasta pertama di Indonesia Timur yang memiliki tenaga medis handal dan aneka peralatan medis berstandar internasional. Kami siap membantu dan melayani Anda.

 

Image by Lifestylememory on Freepik
Saatnya Berubah! Hindari 7 Makanan Ini untuk Kurangi Risiko Penyakit

Saatnya Berubah! Hindari 7 Makanan Ini untuk Kurangi Risiko Penyakit

Memiliki hidup yang sehat dan berkualitas adalah impian semua orang. Namun sayangnya, tidak semua orang mau menjalani pola hidup sehatnya.

Salah satu contohnya dalam hal memilih makanan. Banyak yang mengetahui kalau pilihan makanan yang dikonsumsi sangat memengaruhi kesehatan, tapi tidak sedikit juga yang masih suka sembarangan dalam mengonsumsi makanan.

Nah, kalau kamu ingin mulai mendapatkan hidup yang lebih sehat, sebaiknya juga mulai hindari tujuh jenis makanan ini.

Gorengan

Semua jenis makanan yang digoreng merupakan salah satu musuh utama kesehatan dan sebaiknya sebisa mungkin dihindari.

Alasannya karena makanan jenis ini banyak mengandung asam lemak jenuh, asam lemak trans, hingga kolesterol yang memicu berbagai penyakit mulai, jantung koroner, hipertensi, sampai stroke.

Gorengan juga umumnya rendah akan serat. Jadi tidak benar-benar membantu mengurangi lapar dan justru membuat kita ingin makan lebih banyak lagi. Hal ini akan meningkatkan asupan kalori harian melebihi yang dibutuhkan tubuh.  Jika konsumsi ini terjadi secara rutin, risikonya adalah berat badan akan terus bertambah bahkan bisa sampai obesitas.

Roti putih

Apakah kamu termasuk salah satu orang yang beranggapan bahwa roti bisa dikonsumsi untuk menggantikan nasi saat diet?

Mulai sekarang, hapus pikiran itu. Karena sebenarnya roti putih justru kurang mengandung gizi dan bahkan cenderung tidak sehat untuk konsumsi rutin lho!

Ini karena pada proses penggilingan tepung terigu yang menjadi bahan baku roti putih justru membuang kulit ari dari biji gandum. Proses ini yang mengurangi kadar gizi dari roti putih.

Selain kadar gizi yang rendah, angka indeks glikemik pada roti putih juga tergolong tinggi yaitu mencapai 75. Indeks glikemik merupakan indikator seberapa cepat karbohidrat diproses menjadi glukosa dalam tubuh. Ini berarti roti putih mampu meningkatkan kadar gula darah dalam waktu singkat.

Daging olahan

Beberapa makanan yang termasuk daging olahan seperti sosis, nugget, atau bacon adalah satu lagi jenis makanan yang sebaiknya dihindari.

Bahkan WHO mengklasifikasikan daging olahan merupakan karsinogen kelompok 1. Artinya jenis makanan ini mengandun zat-zat aktif yang dapat memicu munculnya kanker.

Selain itu, pada salah satu riset yang diterbitkan dalam jurnal Circulation menyimpulkan bahwa konsumsi daging olahan secara rutin dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga diabetes mellitus.

Junk Food

Alasan makanan ini disebut junk (sampah) adalah karena kandungan vitamin, mineral, dan seratnya sangat rendah bahkan cenderung tidak ada. Di sisi lain, kaya akan lemak dan tinggi kalori.

Proses pengolahan junk food juga meningkatkan kadar senyawa polycyclic aromatic hydrocarbons dalam tubuh yang bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.

Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa junk food meningkatkan risiko kanker usus besar.

Minuman kemasan

Kandungan gula yang tinggi pada minuman kemasan cukup untuk jadi alasan menghindarinya.

Pasalnya kandungan gula ini dapat mengganggu kemampuan sel-sel tubuh, khususnya saat harus merespon hormon pengatur gula darah (insulin).

Ketika kondisi ini terjadi terus menerus dapat menyebabkan resistensi insulin, yang berakibat tingginya kadar gula dalam darah.

Hal ini dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit seperti, diabetes tipe 2, bahkan penyakit jantung di masa depan.

Mie Instan

Merupakan makanan favorit sejuta umat, sayangnya fakta ini tidak mengurangi bahaya yang ditimbulkannya bagi kesehatan.

Potensi bahaya dari makanan ini berasal dari kandungan garam yang ada pada bumbunya. Kandungan garam yang tinggi seperti diketahui dapat memicu timbulnya hipertensi.

Pada kondisi konsumsi mi instan yang berlebihan juga dapat memicu berbagai penyakit serius di masa mendatang seperti stroke, serangan jantung, hingga kanker perut.

Yoghurt rendah lemak

Meskipun tampak seperti makanan sehat, beberapa produk yoghurt yang beredar di pasaran perlu diwaspadai karena kandungannya.

Tidak sedikit yoghurt rendah lemak yang mengganti kandungan lemak susu di dalamya dengan gula agar produk tetap enak untuk dikonsumsi.

Tambahan gula inilah yang berpotensi meningkatkan risiko obesitas hingga munculnya diabetes.

Nah, itu tadi daftar tujuh jenis makanan yang sebaiknya mulai dihindari untuk mengurangi risiko penyakit di masa mendatang. Kalau belum bisa dihindari sepenuhnya, mulai dengan menghindarinya secara bertahap juga akan tetap besar manfaatnya lho!

Perlu informasi seputar kanker dan pengobatannya, kunjungi Adi Husada Cancer Center (AHCC) atau hubungi kami melalui WA: 0822-8888-6922. AHCC merupakan pusat layanan kanker terintegrasi swasta pertama di Indonesia Timur yang memiliki tenaga medis handal dan aneka peralatan medis berstandar internasional. Kami siap membantu dan melayani Anda.