fbpx
Mengenal Kanker Ginjal, dari Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan

Mengenal Kanker Ginjal, dari Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan

Publik beberapa waktu lalu dikagetkan berita mengenai penyanyi berbakat Indonesia, Vidi Aldiano yang terkena kanker ginjal. Setelah beberapa kali berobat ke Singapura, pada tanggal 13 Desember 2019 Vidi Aldiano melakukan operasi pengangkatan kanker ginjal. Walaupun Vidi Aldiano tidak menjelaskan bagaimana kondisi tubuh dan besarnya tahapan kanker ginjal yang dialami, kita tentu bisa belajar dari peristiwa Vidi Aldiano tersebut.

Di dalam artikel kali ini akan dicoba mengenalkan kanker ginjal, mulai dari gejala kanker ginjal, pengobatan yang bisa dilakukan, sampai bagaimana pencegahannya. Simak di sini ya.

Gejala kanker ginjal

Kanker ginjal tidak seperti kanker yang terlihat dari luar seperti kanker kulit atau kanker tenggorokan. Tetapi Anda bisa merasakan beberapa gejala yang aneh di dalam tubuh, antara lain:

  • Lemah, letih, lesuKondisi pertama gejala kanker ginjal adalah lemah, letih, dan lesu. Kondisi ini memang tidak langsung menunjukkan bahwa Anda sedang mengidap kanker ginjal, tetapi ini bisa menjadi sinyal awal untuk Anda agar waspada. Jika Anda tiba-tiba mengalami kelelahan, coba istirahat yang cukup dan mengonsumsi makanan sehat, setelah itu imbangi dengan olahraga. Jika tidak membaik, coba periksakan ke dokter terdekat.
  • Nyeri punggungNyeri punggung biasanya terjadi karena ada saraf di bagian punggung yang terjepit. Kanker ginjal yang sudah memasuki stadium II akan mulai menekan bagian punggung. Biasanya orang akan menganggap remeh dengan mengira nyeri punggung ini akibat dari kurang minum air putih atau terlalu banyak duduk. Jika nyeri punggung terus menerus terjadi, Anda bisa segera mengambil tindakan dengan menemui dokter.
  • Urine berwarna merah seperti darahJika Anda mengalami 2 kejadian di atas dan ditambah urine Anda ternyata berwarna merah, Anda harus waspada karena kemungkinan besar Anda terkena kanker ginjal. Urine yang berwarna merah seperti darah menandakan bahwa kanker ginjal sudah memasuki stadium II ke atas.

Baca Juga: Konsultasi Onkologi untuk Pasien Kanker, Bagaimana Prosedurnya?

Pengobatan 

Setelah Anda melakukan diagnosis tes darah, CT Scan, atau MRI untuk melihat kondisi kanker ginjal, Anda harus segera melakukan beberapa pengobatan. Ada 2 jenis pengobatan kanker ginjal, pertama adalah operasi dan tindakan non bedah. Untuk operasi biasanya dilakukan jika kesehatan pasien memungkinkan dan jenis kanker bisa diangkat.

Operasi kanker ginjal juga terbagi menjadi 2, pertama nephrectomy mengangkat ginjal secara keseluruhan yang terkena kanker. Kedua nephrectomy parsial yaitu menghapus tumor dalam bentuk yang kecil.

Kemudian tindakan non bedah dilakukan jika kanker ginjal didiagnosa dalam stadium dini. Biasanya tindakan non bedah dilakukan dengan cara pembekuan sel kanker atau pemanasan. Tindakan non bedah ini harus dilakukan beberapa kali untuk memastikan sel kanker benar-benar hilang.

Pencegahan

Sebenarnya secara spesifik tidak ada hal yang baru untuk pencegahan kanker. Pertama Anda harus mengubah pola hidup menjadi lebih sehat. Bangun lebih pagi, berolahraga, dan makan lebih banyak sayuran. Kemudian hentikan kebiasaan merokok dan minum minuman keras.

Sebagai tips tambahan, lakukan checkup setidaknya setahun 2 kali. Pilih dokter atau rumah sakit yang memberikan pelayanan maksimal.

Itulah beberapa penjelasan mengenai kanker ginjal. Pembelajaran dari kasus Vidi Aldiano ini bisa dilihat dari sisi positif agar kita semua bisa lebih aware dan tidak menganggap remeh tentang penyakit kanker. Semoga kita semua sehat ya.

Penyakit Apa Saja yang Bisa Terdeteksi Melalui Tes Hematologi?

Penyakit Apa Saja yang Bisa Terdeteksi Melalui Tes Hematologi?

Untuk mengetahui kondisi darah dalam tubuh, Anda bisa melakukan tes hematologi lengkap. Pemeriksaan tes hematologi dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi maupun penyakit yang dapat menyerang sel darah seseorang. Apa saja penyakit yang dapat terdeteksi melalui tes hematologi tersebut? Anda bisa simak ulasannya berikut ini!

Hal yang diperiksa dalam tes hematologi

Dalam tes hematologi, beberapa hal yang diperiksa oleh dokter dan dapat digunakan sebagai hasi pengukuran meliputi berbagai komponen darah. Berikut beberapa komponen darah tersebut yang perlu untuk Anda ketahui:

  • Sel Darah Putih

Peranan sel darah putih dalam tubuh seseorang adalah untuk memerangi adanya infeksi. Begitu pula dalam proses alergi maupun peradangan. Pada tes hemotologi secara lengkap, dokter bisa mengevaluasi jumlah dan menghitung jenis sel darah putih yang ada dalam tubuh seseorang.

  • Sel Darah Merah

Sementara itu, sel darah merah memiliki fungsi sebagai pembawa oksigen pada seluruh tubuh. Adapun beberapa komponen sel darah merah yang diperiksa dalam tes hematologi antara lain adalah hemoglobin atau protein yang menyalurkan oksigen ke sel darah merah. Kemudian ada hematokrit, yaitu persentase jumlah sel darah merah dalam volume darah atau berkaitan dengan tinggi rendahnya hematokrit.

Baca Juga: Hal yang Harus Anda Ketahui Tentang Hematologi dan Hematolog

Komponen sel darah merah lainnya yang diperiksa adalah Mean Corpuscular Volume (MCV). Pemeriksaan ini lebih berkaitan pada perhitungan ukuran rata-rata sel dalam darah merah. Lalu, dokter akan memeriksa Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC), perhitungan berapa padatnya molekul hemoglobin di dalam sel darah merah. Terakhir dalam tes hematologi, dokter akan memeriksa Red Cell Distribution Width (RDW) atau perhitungan dalam melihat ukuran sel darah merah.

  • Platelet

Dalam dunia medis, platelet disebut juga dengan trombosit, yakni sel darah berperan pada proses pembekuan darah. Dokter akan menilai berapa jumlahnya, ukuran rata-rata, hingga keseragaman ukurannya di dalam darah. Jumlah sel darah merah dapat mengidentifikasi penyakit tertentu. Contohnya, sel darah merah yang rendah bisa menjadi pertanda tubuh dalam kondisi anemia.

Penyakit yang bisa terdeteksi

Tes hematologi juga dianggap mampu untuk mendeteksi jenis-jenis penyakit tertentu yang berkaitan dengan sel darah. Beberapa di antaranya adalah infeksi darah, leukimia, hingga anemia. Berikut ulasan ringkas mengenai beberapa penyakit tersebut.

  • Infeksi Darah

Infeksi darah di dunia medis sering disebut dengan sepsis. Penyebabnya adalah terjadinya senyawa kimia yang dilepas oleh tubuh ke dalam darah, yang memicu adanya peradangan di seluruh tubuh.  Sepsis dapat mengurangi aliran darah ke anggota tubuh maupun organ internal dan menghilangkan nutrisi maupun oksigen. Risiko yang bisa lebih parah dari infeksi ini adalah dapat menyebabkan infeksi tulang atau osteomielitis.

  • Leukimia

Leukimia adalah penyakit yang kerap dideteksi oleh para dokter dalam tes hematologi. Leukimia merupakan kanker yang menyerang sel darah putih. Sel darah putih inilah yang melindungi tubuh dari penyakit. Normalnya, sel darah putih dapat berkembang dengan teratur ketika tubuh membutuhkannya dalam mengatasi infeksi. Namun, saat terjadi leukimia, sumsum tulang belakang memproduksi sel darah putih yang tidak normal sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. Bila tidak tertangani dengan serius, penyakit ini dapat berbahaya bagi kesehatan, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

  • Anemia

Penyakit berikutnya yang bisa terdeteksi dari tes hematologi adalah anemia. Penyakit ini terjadi ketika kondisi tubuh kekurangan sel darah yang mengandung hemoglobin. Ketika mengalami penyakit ini, penderita akan merasa letih, lelah, dan tidak bisa berktivitas dengan baik. Untuk pencegahan, anemia dapat diobati melalui konsumsi suplemen secara rutin.

Itu dia beberapa penyakit yang dapat terdeteksi melalui tes hematologi. Oleh karena itulah, tetap jaga kondisi kesehatan tubuh dengan berolahraga mengkonsumsi makanan sehat dan menjaga pola hidup sehat secara teratur.

Konsultasi Onkologi untuk Pasien Kanker, Bagaimana Prosedurnya?

Konsultasi Onkologi untuk Pasien Kanker, Bagaimana Prosedurnya?

Onkologi masih terdengar cukup asing bagi sebagian orang. Istilah medis ini sebenarnya merujuk pada ilmu kedokteran yang khusus dalam diagnosis dan pengobatan kanker. Ahli onkologi atau onkolog ada yang dapat menangani semua bentuk kanker. Namun, ada juga yang khusus menangani satu jenis kanker saja. Meski begitu, ada prosedur onkologi yang harus Anda jalani ketika menjalani pemeriksaan. Berikut ulasannya yang bisa disimak.

Tujuan konsultasi onkologi

Konsultasi onkologi banyak memiliki manfaat bagi para pasien, yakni untuk memastikan apakah penyakit dan gejala yang diderita dapat segera ditangani ataukah membutuhkan perawatan atau pengobatan lanjutan. Tujuan lainnya adalah Anda dapat bertanya secara panjang lebar kepada dokter tanpa rasa ragu. Berikanlah informasi sebaik-baiknya dan sejelas-jelasnya kepada dokter terkait apa yang Anda rasakan.

Selain berkonsultasi mengenai gejala penyakit, Anda juga bisa berkonsultasi terkait pengobatan yang akan dijalani. Termasuk pula dalam memilih rumah sakit maupun klinik terbaik untuk memperoleh pengobatan yang dianjurkan tersebut.

Peralatan yang digunakan

Dari segi dokter dan penanganan medis, beberapa peralatan dalam prosedur onkologi di antaranya adalah rontgen, USG, dan endoskopi untuk memeriksa saluran pencernaan hingga CT scan. Tidak ketinggalan pula klinik maupun rumah sakit harus memiliki MRI yang memadai dan pemeriksaan penunjang lainnya.

Mengingat penyakit kanker memiliki ragam gejala, seorang ahli onkolog penting untuk mengetahui riwayat medis sang pasien dengan sistematis dan lengkap. Salah satunya dengan menggunakan pemeriksaan sampel yang didapat dari pengangkatan sel tumor maupun biopsi.

Apa yang harus Anda siapkan?

Saat menjalani prosedur onokologi, Anda pun perlu melakukan persiapan tersendiri agar prosesnya menjadi lancar. Oleh karena itulah Anda perlu untuk mencatat semua gejala yang dialami. Contohnya seperti sejak kapan Anda mengalami gejala tersebut, termasuk pula obat-obatan yang sudah Anda konsumsi.

Persiapan mental dan emosi juga penting untuk Anda perhatikan. Sebab, beberapa orang mungkin akan sedikit terguncang ketika mendapatkan diagnosis kanker dari dokter. Mengatasi hal ini, Anda perlu menggunakan pendekatan psikologi dan emosional. Untuk hal ini, Anda bisa mengajak orang terdekat Anda. Dengan cara ini, Anda akan merasa sedikit lebih tenang.

Bagaimana cara kerja dan prosedurnya?

Prosedur konsultasi onkologi biasanya diawali dengan dokter spesialis kanker. Dokter spesialis ini akan memeriksa riwayat kesehatan Anda. Riwayat kesehatan ini biasanya meliputi hasil tes sebelumnya. Termasuk pula hasil MRI, CT scan, tes darah, biopsi, maupun tes lainnya yang mendukung proses onkologi. Lalu, Anda jangan lupa untuk membawa semua obat-obatan yang dikonsumsi. Baik itu berupa suplemen, makanan, vitamin maupun produk obat-obatan lainnya.

Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan dari tes, spesialis kanker akan memberikan konfirmasi diagnosis apakah Anda positif terkena kanker atau tidak. Dokter mungkin saja akan meminta menjalani tes tambahan. Di sinilah Anda bisa megajukan keluhan yang dirasakan.

Keluhan yang Anda sampaikan dalam prosedur konsultasi akan menjadi pertimbangan dokter dalam mengajukan rencana pengobatan. Bila kanker dalam diri Anda tidak bisa diembuhkan, dokter akan menyarankan pengobatan dan membantu Anda beradaptasi. Untuk menghindari risiko, Anda harus mengutarakan keluhan yang Anda rasakan dengan sejelas-jelasnya agar dokter dapat memberikan penanganan yang terbaik.

Kini, Anda sudah tahu prosedur onkologi bagi pasien kanker. Dengan mengetahui prosedur onkologi tersebut, tentu akan memudahkan Anda ketika sedang menjalani pemeriksaan. Anda pun semakin tenang dan pemeriksaan dapat berjalan dengan baik.

Panduan Tes Skrining Kanker Berdasarkan Usia

Panduan Tes Skrining Kanker Berdasarkan Usia

Tes skrining merupakan pemeriksaan yang dapat Anda lakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan. Tes skrining tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mengidap suatu penyakit tertentu, misalnya kanker, namun ditujukan untuk siapa saja yang peduli terhadap kesehatannya.

Tes skrining umumnya dilakukan sebagai pemeriksaan dini untuk mendeteksi apakah ada kanker yang mungkin saja tumbuh di dalam tubuh Anda, mengingat beragam jenis kanker tidak dapat terdeteksi jika masih pada stadium-stadium awal. Kanker, apapun jenisnya, akan memunculkan gejala dan biasanya baru ketahuan setelah setidaknya berada pada stadium tiga ke atas.

Oleh karena itu, adanya tes skrining mampu membantu Anda mendeteksi kanker sedini mungkin sebelum sel tersebut menyebar dan semuanya menjadi terlambat. Simak panduan dari AHCC untuk tes skrining kanker berdasarkan usia berikut ini.

Usia 21-29 tahun

Tes skrining untuk laki-laki usia 21-29 tahun biasanya berupa pengujian kanker usus besar. Skrinning ini dilakukan untuk mengetahui apakah Anda berisiko terkena kanker usus besar karena riwayat keluarga, kelainan genetik, atau faktor lainnya.

Untuk perempuan, tes skrining yang dilakukan meliputi tes kanker payudara, kanker serviks, dan kanker usus besar. Wanita usia 21 tahun ke atas juga sudah mulai diwajibkan untuk tes pap smear setiap tiga tahun sekali untuk mengetahui kemungkinan adanya risiko kanker serviks.

Usia 30-39 tahun

Tes skrining untuk laki-laki usia 30-39 tahun masih hanya seputar kemungkinan adanya faktor risiko kanker usus besar sebagai akibat dari adanya kelainan genetik, faktor keturunan, maupun faktor eksternal lainnya.

Sedangkan untuk perempuan pada usia yang sama, tes kanker payudara wajib dilakukan untuk mengetahui adanya faktor risiko, terlebih jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan penyakit yang sama. Tes kanker serviks melalui pemeriksaan pap smear juga tetap harus rutin dilakukan tiap tiga tahun sekali untuk wanita yang sudah menikah dan lima tahun sekali untuk wanita yang belum menikah. Tes kanker usus besar juga dilakukan untuk wanita usia ini.

Usia 40-49 tahun

Memasuki usia ini, laki-laki dengan faktor risiko kanker usus besar wajib melakukan tes skrining kanker usus besar. Ini untuk melihat apakah di tubuh Anda ada kemungkinan tumbuhnya sel kanker. Sedangkan untuk laki-laki yang tidak punya faktor risiko, tes skrining hanya berfungsi untuk mengetahui apakah ada kemungkinan Anda terjangkit kanker usus besar. Pria yang berusia 40 hingga 45 tahun juga wajib melakukan tes skrining untuk kanker prostat. Terlebih jika ada riwayat keluarga kanker prostat di usia 65 tahun ke bawah.

Untuk wanita usia 40-49 tahun, tes skrining masih dilakukan untuk pengujian apakah adanya kemungkinan Anda terkena kanker payudara, kanker serviks, dan kanker usus besar. Untuk deteksi kanker payudara di umur 40 tahun lebih disarankan untuk melakukan skrining kanker payudara dengan tes Mammografi.

Usia 50-64 tahun

Laki-laki maupun wanita yang sudah memasuki usia 50-64 tahun memiliki tanggung jawab yang lebih tinggi untuk melakukan tes skrining. Laki-laki wajib tes kanker usus besar, tes kanker prostat, dan kanker paru. Wanita wajib tes untuk kanker payudara, kanker serviks, kanker usus besar, dan kanker paru.

Tes untuk kanker paru dilakukan untuk mengetahui kondisi paru Anda, terlebih jika Anda memiliki kebiasaan merokok selama tahun-tahun sebelumnya. Melalui tes skrining, Anda bisa tahu kondisi paru-paru Anda dan berkonsultasi pada dokter, langkah apa yang harus dilakukan ke depannya untuk tetap hidup sehat.

Usia 65 tahun ke atas

Wanita dan laki-laki yang berada di usia 65 tahun ke atas wajib melakukan tes skrining yang sama pada usia sebelumnya. Jika Anda sudah rutin melakukan tes skrining di usia-usia sebelumnya, maka sebaiknya tetap lanjutkan kebiasaan tersebut. Namun, jika Anda belum pernah melakukan tes skrining sebelumnya dan saat ini sudah memasuki usia 65 tahun ke atas, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.

Semakin Anda bertambah usia, semakin menurun pula kemampuan organ tubuh untuk menopang kehidupan. Jika Anda tidak menerapkan gaya serta pola hidup sehat, bukan tidak mungkin penyakit akan lebih cepat datang. Jangan perburuk kondisi tersebut dengan malas melakukan tes skrining. Konsultasilah pada dokter dan ketahui langkah apa yang sebaiknya dilakukan untuk membuat Anda setidaknya bisa hidup sampai umur yang diinginkan.

Cegah Kanker Serviks dengan Pemeriksaan Pap Smear Rutin

Cegah Kanker Serviks dengan Pemeriksaan Pap Smear Rutin

Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2018 yang disusun oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, setidaknya 23,4% per 100.000 wanita Indonesia merupakan penyintas kanker serviks. Tidak tanggung-tanggung, bahkan kanker serviks merupakan pemicu kematian wanita di Indonesia dengan rasio sebesar 13,9% per 100.000 penduduk. Untuk itu, pemeriksaan pap smear secara rutin sangat disarankan guna mencegah serviks lebih dini.

Perlu diketahui bahwa pap smear merupakan pemeriksaan ginekologi yang dilakukan untuk mendeteksi adanya infeksi virus HPV. Virus inilah yang kemudian menjadi penyebab kondisi pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Pap smear hanya bisa dilakukan di luar periode menstruasi, sebab metode pemeriksaannya dilakukan dengan cara mengambil sample lendir serviks dengan memasukkan speculum ke vagina. Anda juga dianjurkan menghentikan penggunaan obat-obatan vaginal sebelum pemeriksaan pap smear dilakukan di rumah sakit kanker.

Baca Juga: Stres Bisa Picu Kanker Serviks, Begini Penjelasan dari Dokter

dr. Primandono Perbowo, SpOG (K) Onk, dokter spesialis kanker kandungan Adi Husada Cancer Center (AHCC), menjelaskan bahwa kanker serviks tidak memiliki gejala yang khas atau spesifik, bahkan penyintas tidak memiliki keluhan apapun. Apabila terjadi keluhan, seperti keputihan atau berdarah setelah berhubungan intim, maka kondisi ini menunjukkan bahwa kanker sudah menuju ke stadium lebih lanjut. “Kanker serviks hanya bisa dideteksi dengan pemeriksaan pap smear,” ungkapnya.

American Society for Colposcopy and Cervical Pathology telah menerbitkan panduan lengkap bagi wanita di seluruh dunia yang berencana untuk melakukan pemeriksaan pap smear. Melalui panduan tersebut, ditemukan fakta baru, bahwa wanita disarankan menjalankan prosedur pemeriksaan pap smear sejak berusia 21 sampai 65 tahun. Pemeriksaan ini bahkan dianjurkan meskipun Anda belum atau tidak aktif melakukan hubungan seksual.

Menurut dr. Primandono Perbowo, SpOG (K) Onk, untuk mencegah serviks, sebaiknya Anda tidak perlu merasa malu untuk memeriksakan diri. Periksakan diri dengan pap smear setiap satu tahun sekali. Apabila tiga tahun berturut-turut hasil pemeriksaan negatif, maka pemeriksaan bisa diulang tiga tahun sekali agar kondisi serviks selalu sehat dan terhindar dari risiko kanker serviks. “Bagi yang sudah menikah, pemeriksaan pap smear bisa dilakukan tiga tahun setelah menikah. Sementara vaksin serviks penting dilakukan sebelum menikah untuk mencegah serviks hingga 90%,” lanjutnya.

Prosedur pemeriksaan pap smear terbilang cukup singkat dan tidak menimbulkan rasa sakit, meski ada pula yang mengeluhkan kram perut sesaat usai melakukan pap smear. Namun, jika Anda berada dalam kondisi gugup atau tegang, maka otot-otot panggul pun menjadi kaku, sehingga berisiko menimbulkan rasa tidak nyaman karena speculum lebih sulit masuk ke vagina. Jadi, pastikan untuk tetap rileks agar pemeriksaan pap smear berjalan lancar dan bebas dari rasa sakit.

dr. Primandono Perbowo, SpOG (K) Onk, yang saat ini juga merupakan Staff Pengajar Divisi Onkologi dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya itu pun menjelaskan, untuk mencegah serviks setiap wanita diminta selalu menjaga kebersihan organ intim dengan cara membasuh area kewanitaan setiap sebelum dan setelah berhubungan seksual. Lebih lanjut, bagi wanita yang sudah menikah diimbau agar selalu mengingatkan pasangannya untuk menjaga kebersihan alat vital serta setia hanya dengan satu pasangan seksual.

Mengakhiri penjelasannya, dr. Primandono Perbowo, SpOG (K) Onk juga menyarankan agar Anda tetap rutin berolah raga, memperbaiki pola istirahat, dan mengonsumsi makanan bergizi guna menjaga daya tahan tubuh. “Penurunan sistem kekebalan tubuh meningkatkan risiko pertumbuhan sel kanker di dalam tubuh. Pastikan Anda selalu menjaga tubuh tetap sehat agar terhindar dari segala jenis kanker,” tutupnya.

Cegah Kanker Payudara Sejak Dini dengan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

Cegah Kanker Payudara Sejak Dini dengan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan dengan menggunakan tangan dan penglihatan untuk memeriksa apakah ada perubahan fisik pada payudara. Proses ini dilakukan agar semua perubahan yang mengarah pada kondisi yang lebih serius dapat segera ditangani. Pentingnya SADARI mengacu pada fakta yang menunjukan bawah satu dari sembilan wanita berpotensi terkena kanker payudara dan 40% dari kasus wanita yang terkena kanker payudara terdeteksi dari wanita yang merasakan benjolan pada payudaranya. Cara melakukan SADARI :

  • Lakukan dalam posisi tidur. Letakkan bantal di bawah pundak kanan dan angkat lengan kiri ke atas
  • Dengan tangan kanan, gunakan jari-jari Anda untuk meraba dan menekan seluruh bagian payudara sebelah kiri hingga daerah ketiak
  • Lakukan pula pada payudara sebelah kanan
  • Lakukan setiap bulan sekali, jika diperlukan, pilih satu tanggal dalam satu bulan dan buat pengingat di kalender agar tidak lupa

Luangkan beberapa menit untuk pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), dan selamatkan hidup Anda.