fbpx
4 Hal yang Harus Dilakukan Ketika Anda Sudah Divonis Kanker

4 Hal yang Harus Dilakukan Ketika Anda Sudah Divonis Kanker

Cara kerja sel kanker adalah mengelabui sistem imun kemudian berkembang biak di dalam tubuh. Di dalam kondisi tertentu, kanker bisa mengalami pertumbuhan yang luar biasa dan bisa menempel ke organ tubuh lain dengan akibat paling fatal adalah kematian. Semua risiko tersebut sebenarnya bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan ketika Anda aware mengenai gejala atau tanda-tanda penyakit kanker.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana jika sudah mengetahui bahwa seseorang sudah divonis menderita kanker? Tidak perlu khawatir, hampir semua dokter onkologi sudah mengetahui prosedur awal agar pasien tidak terlalu panik dan khawatir. Kali ini akan dibahas 4 hal yang bisa Anda lakukan setelah mengetahui bahwa Anda mengidap penyakit kanker. Apa saja hal tersebut?

Memilih dokter yang tepat

Hal pertama yang harus segera Anda lakukan ketika sudah divonis kanker adalah memilih dokter yang tepat. Saat Anda memeriksakan diri pertama kali ke dokter dan mengetahui bahwa Anda menderita kanker, Anda bisa saja memilih dokter tersebut untuk penanganan selanjutnya. Begitu pula sebaliknya, jika Anda merasa butuh second opinion atau tidak cocok dengan dokter pertama tadi, Anda bisa memilih dokter onkologi lain.

Pemilihan dokter onkologi yang tepat akan sangat membantu penanganan, penyembuhan, dan juga mengurangi risiko stres atau depresi. Pastikan dokter onkologi yang Anda pilih nantinya memberikan segala informasi yang Anda butuhkan. Misalnya jenis kanker, kenapa bisa muncul kanker, besarnya kanker, penanganan pertama pada kanker, pilihan pengobatan, kapan harus kontrol kembali, biaya yang dibutuhkan, sampai apakah jika mempunyai anak kanker tersebut bisa menular atau tidak.

Mengubah pola hidup

Ketika Anda sudah dinyatakan mengidap penyakit kanker, segera cari tahu kepada dokter apa saja hal harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Setiap jenis kanker memiliki penanganan yang berbeda-beda, misalnya kanker payudara tidak dianjurkan terlalu sering makan daging merah dan makanan yang mengandung lemak.

Selain menjaga pola makan, perlahan-lahan benahi pola tidur Anda. Dengan membuat pola tidur teratur, akan membantu meningkatkan imun tubuh. Jika memungkinkan dan diperbolehkan oleh dokter, Anda bisa berolahraga ringan seperti jogging atau bersepeda. Tetapi ingat, taati apa saja yang boleh dan tidak boleh dianjurkan oleh dokter.

Mendapatkan bantuan dari keluarga

Hal ketiga yang harus Anda lakukan adalah segara memberi tahu keluarga mengenai kanker yang Anda idap. Ada beberapa tips untuk memberi tahu keluarga mengenai kanker, pertama pastikan Anda sudah mengetahui langkah awal pengobatan kanker, kemudian Anda sudah memilih dokter serta rumah sakit untuk mengobati penyakit kanker, dan terakhir Anda sudah mengetahui solusi biaya selama pengobatan penyakit kanker.

Ketiga hal tersebut bisa Anda bicarakan kepada pasangan terlebih dahulu, baru kemudian orang tua. Setelah itu selesai, Anda bisa berbicara kepada keluarga dekat ataupun teman. Dengan mendapatkan bantuan dari keluarga, itu akan memberikan bantuan moral yang sangat baik ketika menjalani pengobatan kanker.

Kelola stres

Terakhir adalah kelola stress Anda. Ketika Anda divonis kanker, tentu itu akan menjadi pukulan yang sangat telak. Oleh karena itu, ketiga hal di atas bisa Anda lakukan terlebih dahulu agar pikiran negatif yang akan membuat Anda stress atau depresi bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan. Coba lakukan beberapa hal yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya, misalnya rekreasi ke luar kota atau mencoba hal baru seperti memancing.

Keempat hal tersebut merupakan hal yang berkesinambungan satu sama lain. Anda harus melakukannya dari awal dan berturut-turut untuk mendapatkan penanganan kanker yang baik. Tetap semangat dan selalu berpikir positif.

Hal-hal yang Harus Anda Ketahui Tentang Biopsi

Hal-hal yang Harus Anda Ketahui Tentang Biopsi

Salah satu penanganan dan pencegahan kanker paling optimal adalah biopsi. Bisa dibilang, hampir semua penanganan kanker seperti operasi, kemoterapi, atau immunterapi ini diawali dengan biopsi. Biopsi sendiri adalah tindakan diagnostik yang dilakukan dengan cara mengambil sample dari tubuh seperti jaringan atau sel yang kemudian dianalisis untuk mengetahui jenis pengobatan dan tindakan terbaik selanjutnya.

Biopsi memang terkenal sebagai alat yang sangat ampuh untuk mengenal kanker, tetapi tidak jarang penyakit seperti gagal ginjal atau sirosis hati ini juga membutuhkan biopsi. Kali ini akan dicoba dibahas bagaimana biopsi sangat berguna bagi para penderita kanker untuk mengetahui jenis dan tindakan penanganan selanjutnya oleh dokter.

Mengapa Anda harus melakukan biopsi?

Sekadar informasi, biopsi bisa dianggap sebagai salah satu alat diagnosis kanker paling mutakhir dan sangat reliable. Jika diagnosis kanker lainnya hanya memastikan besarnya kanker dan apakah kanker sudah mencapai organ tubuh lain, maka biopsi ini dilakukan untuk memastikan langkah penanganan kanker selanjutnya. Apakah kanker harus segara diangkat, menggunakan kemoterapi, atau penanganan lain.

Biopsi adalah prosedur pengambilan sebagian kecil jaringan di dalam tubuh untuk diperiksa ke dalam laboratorium. Jadi bisa dibilang biopsi adalah langkah pasti apakah seseorang ini menderita kanker atau tidak. Tidak hanya itu, biopsi mempunyai sejarah yang panjang, yaitu di tahun 1010an dan terus dilakukan hingga sekarang karena tingkat kesuksesan mendiagnosis kanker sangat tinggi.

Siapa yang harus melakukan biopsi?

Biasanya biopsi adalah diagnosis terakhir yang dilakukan para penderita kanker. Misalnya ada pasien yang sudah divonis menderita kanker payudara melalui mammogram. Untuk memastikan besarnya kanker payudara, penyebab munculnya tumor, dan bagaimana penanganan tumor ini selanjutnya, maka pasien kanker tersebut harus segera melakukan biopsi.

Walaupun begitu, tidak semua pasien kanker juga tidak wajib menjalani biopsi jika memang alat diagnosis lain sudah cukup memberikan analisis kepada dokter. Jadi apakah seseorang wajib menjalani biopsi atau tidak ini memang harus melalui anjuran dari dokter onkologi terlebih dahulu. Apalagi sekarang waktu diagnosis biopsi ini cukup lama, yaitu sekitar 1-2 minggu.

Ada hal menarik lainnya mengenai biopsi, seperti dijelaskan di awal bahwa biopsi ini tidak dilakukan untuk penderita kanker saja. Biopsi juga bisa dilakukan untuk melihat apakah pasien ini menderita gagal ginjal, sirosis hati, penyakit kulit, atau bahkan penyakit paru.

Apakah biopsi berbahaya?

Metode biopsi ini bermacam-macam, ada yang menggunakan jarum kecil untuk mengambil jaringan, dengan cara pembedahan, endoskopi yaitu memasukkan kamera kecil untuk melihat bagian dalam tubuh, atau mengerok jaringan di permukaan kulit. Nah di antara banyak metode tersebut, biopsi sebenarnya memiliki risiko yang sangat kecil, yaitu risiko pendarahan.

Risiko biopsi adalah pendarahan ketika dilakukan pengambilan jaringan ataupun kesemutan setelah dilakukannya biopsi, tetapi efek samping biopsi tersebut sangat jarang ditemui. Apalagi sekarang prosedur dan alat medis sudah sangat modern, sehingga munculnya efek samping biopsi ini sangat jarang. Jadi Anda tidak perlu takut untuk melakukan biopsi, ditambah lagi jaringan di dalam tubuh yang diambil untuk proses biopsi ini juga sangat kecil.

Biopsi sampai sekarang menjadi salah satu alat diagnosis yang sangat bagus bagi para penderita kanker. Jadi ketika Anda sudah divonis menderita kanker, Anda bisa bertanya kepada dokter onkologi apakah perlu dilakukan biopsi atau tidak. Semoga serba-serbi biopsi di atas bisa sedikit memberikan pencerahan kepada Anda.

Mulai Serang Millenial, Apa Gejala dari Kanker Usus Besar?

Mulai Serang Millenial, Apa Gejala dari Kanker Usus Besar?

Akhir tahun 2019 kemarin Rumah Sakit Umum Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) memberikan penjelasan bahwa pasien termuda yang terkena kanker usus besar adalah berusia 24 tahun. Ini adalah hal yang sangat mengagetkan karena biasanya pasien yang menderita kanker usus besar ini berusia rata-rata 40 tahun ke atas. Salah satu hal yang paling disorot mengenai kanker usus besar yang diderita millennial adalah pola hidup yang kurang sehat.

Jika dilihat dari penyebab kanker usus besar, seperti pola makan yang tidak teratur, terlalu sering mengonsumsi daging merah/lemak, merokok, dan jarang olahraga tentu itu adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh millennial. Ingin serba instan membuat gerak tubuh sangat kurang dan membuat permasalahan pada pencernaan. Sebelum Anda sebagai millennial ataupun yang sudah menginjak paruh baya, simak ya gejala kanker usus besar yang mungkin Anda sering tidak ketahui.

Gejala dan penyebab kanker usus besar

Seperti dijelaskan di awal, penyebab kanker usus besar adalah buruknya pola makan sehari-hari. Apalagi ditambah Anda sangat malas untuk berolahraga, menjaga kebersihan, merokok, dan terlalu banyak mengonsumsi daging berlemak. Kanker usus besar ini diawali dengan munculnya tumor jinak yaitu polip. Jika kondisi imun tubuh turun dan ditambah kebiasaan jelek di atas masih terus Anda lakukan, polip akan menjadi tumor ganas dan bisa menjadi kanker usus besar.

Untuk mencegah hal tersebut, Anda bisa mengantisipasi sejak dini dengan melihat beberapa gejala kanker usus besar di bawah ini.

  • Diare atau sembelit

Gejala awal kanker usus besar adalah diare atau sembelit. Anda mungkin sesekali mengalami diare atau sembelit, misalnya karena makan terlalu pedas atau asam. Tetapi jika Anda merasa bahwa tidak ada makanan yang aneh, tetapi Anda terus merasa diare atau sembelit, itu tandanya ada masalah pada saluran pencernaan Anda.

  • Perut kembung

Sama seperti gejala awal, perut kembung sering muncul ketika Anda telat makan. Tetapi jika perut kembung ini muncul terlalu sering, ada baiknya Anda waspada dan memeriksakan ke dokter jika ternyata tidak kunjung sembuh selama 3-4 hari.

  • Kram sampai sakit perut

Gejala paling sering muncul pada kanker usus besar adalah kram atau sakit perut. Ketika sel kanker sudah mulai berkembang dan menyerang saraf, salah satu efek yang sering muncul adalah kram dan sakit perut. Bahkan dalam beberapa kasus, kram dan sakit perut ini bisa muncul dan sembuh secara tiba-tiba.

  • BAB berdarah

Gejala terakhir yang berbahaya adalah BAB atau buang air besar berdarah. Sebenarnya Anda bisa melihat kesehatan tubuh Anda dari BAB. Apakah Anda lancar BAB dan bagaimana bentuknya? Jika ternyata BAB Anda sampai berdarah, berarti ada masalah dengan saluran pencernaan.

Dari keempat gejala di atas, Anda bisa memastikan apakah Anda terkena kanker usus besar atau tidak dengan cara diagnosis awal. Untuk kanker usus besar, Anda bisa melakukan CT Scan dan foto rontgen untuk melihat apakah Anda terkena kanker usus besar atau tidak.

Semoga artikel di atas bisa sedikit memberikan gambaran bagaimana kanker usus besar ini sudah mulai menyerang anak muda. Benahi pola makan dan sempurnakan dengan pola hidup sehat. Semoga Anda dan keluarga bisa terhindar dari kanker usus besar.

WEBINAR: Recent Update Management of Nasopharyngeal Carcinoma

WEBINAR: Recent Update Management of Nasopharyngeal Carcinoma

Webinar Kanker Nasofaring AHCC

Di masa pandemi COVID-19 seperti saat ini mengharuskan tenaga medis untuk melakukan penyesuaian atau adaptasi pada tata kelola penanganan kasus Nasopharyngeal Carcinoma, Dari saat pasien datang dan mendiskusikan keluhannya, penegakan diagnostik hingga pilihan modalitas pengobatannya.

Sejalan dengan misi Adi Husada Cancer Center (AHCC) untuk terus berinovasi dan memberikan penanganan kanker terbaik, AHCC mengundang tim medis untuk bergabung dalam WEBINAR “Recent Update Management of Nasopharyngeal Carcinoma” pada masa pandemi ini.

Webinar ini akan digelar pada,
Hari & Tanggal: Sabtu, 29 Agustus 2020
Waktu: Pukul 10.00 s.d 11.00 WIB

Pembicara:

  • Prof. Dr. Widodo Ario Kentjono, dr, Sp.THT.KL (K), FICS
  • dr. Dyah Erawati, Sp. Rad (K) Onk. Rad
  • dr. Made Putra Sedana, Sp. PD-KHOM

Moderator:

  • dr. Antonius HW, Sp. THTKL

Informasi lebih lengkap Anda dapat menghubungi, Febrian – 0881 3299 689

Unduh Materi Webinar

Current Treatment of Nasopharyngeal Carcinoma

Pemateri: Prof. Dr. Widodo Ario Kentjono, dr, Sp.THT.KL (K), FICS

MEDICAL TREATMENT OF Nasopharynx Carcinoma

Pemateri: dr. Made Putra Sedana, Sp. PD-KHOM

ROLE OF RADIOTHERAPY in Nasopharyngeal carcinoma

Pemateri: dr. Dyah Erawati, Sp. Rad (K) Onk. Rad

Virtual Yoga Merdeka with Adi Husada Cancer Center

Virtual Yoga Merdeka with Adi Husada Cancer Center

Virtual Yoga Kemerdekaan AHCC

Yoga dipercaya mampu mengurangi berbagai hal negatif yang terjadi di tubuh. Tak hanya baik untuk orang yang sehat, bahkan di beberapa penilitian menyebutkan bahwa Yoga terbukti dapat mengurangi gejala kanker, seperti tekanan darah tidak stabil, kolesterol, detak jantung, hingga lipoprotein. Dengan konsisten melakukan Yoga dalam periode tertentu, menghasilkan dampak jangka pendek yang sangat baik bagi pasien kanker. Penderita kanker bisa tidur lebih berkualitas dan mengurangi rasa cemas pada penderita kanker wanita.

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75, Adi Husada Cancer Center (AHCC) mengajak Anda semua untuk ikut dalam acara “Virtual Yoga Merdeka.” Jadi, yuk gabung dalam event Yoga Viryual Meredeka bareng AHCC yang akan diselenggarakan pada,

Hari & Tanggal: Jumat, 14 Agustus 2020
Waktu: Pukul 15.00 s.d 17.00 WIB
Pembicara: dr. Lulus Handayani, Sp. Rad (K) Onk.Rad

Zoom Link: https://bit.ly/ahccvirtualyoga
Instruktur Yoga: Fortunata Diana
RSVP: Rini 0819 3101

Untuk memeriahkan acara dan karena dalam nuasa peringatan kemerdekaan RI yang ke-75, kami harapkan Anda yang ikut dalam acara Virtual Yoga Kemerdekaan ini menggunakan DRESSCODE MERAH PUTIH. Kami juga akan berikan giveaway menarik untuk peserta dengan kostum terbaik.