fbpx
Penyakit Apa Saja yang Bisa Terdeteksi Melalui Tes Hematologi?

Penyakit Apa Saja yang Bisa Terdeteksi Melalui Tes Hematologi?

Untuk mengetahui kondisi darah dalam tubuh, Anda bisa melakukan tes hematologi lengkap. Pemeriksaan tes hematologi dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi maupun penyakit yang dapat menyerang sel darah seseorang. Apa saja penyakit yang dapat terdeteksi melalui tes hematologi tersebut? Anda bisa simak ulasannya berikut ini!

Hal yang diperiksa dalam tes hematologi

Dalam tes hematologi, beberapa hal yang diperiksa oleh dokter dan dapat digunakan sebagai hasi pengukuran meliputi berbagai komponen darah. Berikut beberapa komponen darah tersebut yang perlu untuk Anda ketahui:

  • Sel Darah Putih

Peranan sel darah putih dalam tubuh seseorang adalah untuk memerangi adanya infeksi. Begitu pula dalam proses alergi maupun peradangan. Pada tes hemotologi secara lengkap, dokter bisa mengevaluasi jumlah dan menghitung jenis sel darah putih yang ada dalam tubuh seseorang.

  • Sel Darah Merah

Sementara itu, sel darah merah memiliki fungsi sebagai pembawa oksigen pada seluruh tubuh. Adapun beberapa komponen sel darah merah yang diperiksa dalam tes hematologi antara lain adalah hemoglobin atau protein yang menyalurkan oksigen ke sel darah merah. Kemudian ada hematokrit, yaitu persentase jumlah sel darah merah dalam volume darah atau berkaitan dengan tinggi rendahnya hematokrit.

Baca Juga: Hal yang Harus Anda Ketahui Tentang Hematologi dan Hematolog

Komponen sel darah merah lainnya yang diperiksa adalah Mean Corpuscular Volume (MCV). Pemeriksaan ini lebih berkaitan pada perhitungan ukuran rata-rata sel dalam darah merah. Lalu, dokter akan memeriksa Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC), perhitungan berapa padatnya molekul hemoglobin di dalam sel darah merah. Terakhir dalam tes hematologi, dokter akan memeriksa Red Cell Distribution Width (RDW) atau perhitungan dalam melihat ukuran sel darah merah.

  • Platelet

Dalam dunia medis, platelet disebut juga dengan trombosit, yakni sel darah berperan pada proses pembekuan darah. Dokter akan menilai berapa jumlahnya, ukuran rata-rata, hingga keseragaman ukurannya di dalam darah. Jumlah sel darah merah dapat mengidentifikasi penyakit tertentu. Contohnya, sel darah merah yang rendah bisa menjadi pertanda tubuh dalam kondisi anemia.

Penyakit yang bisa terdeteksi

Tes hematologi juga dianggap mampu untuk mendeteksi jenis-jenis penyakit tertentu yang berkaitan dengan sel darah. Beberapa di antaranya adalah infeksi darah, leukimia, hingga anemia. Berikut ulasan ringkas mengenai beberapa penyakit tersebut.

  • Infeksi Darah

Infeksi darah di dunia medis sering disebut dengan sepsis. Penyebabnya adalah terjadinya senyawa kimia yang dilepas oleh tubuh ke dalam darah, yang memicu adanya peradangan di seluruh tubuh.  Sepsis dapat mengurangi aliran darah ke anggota tubuh maupun organ internal dan menghilangkan nutrisi maupun oksigen. Risiko yang bisa lebih parah dari infeksi ini adalah dapat menyebabkan infeksi tulang atau osteomielitis.

  • Leukimia

Leukimia adalah penyakit yang kerap dideteksi oleh para dokter dalam tes hematologi. Leukimia merupakan kanker yang menyerang sel darah putih. Sel darah putih inilah yang melindungi tubuh dari penyakit. Normalnya, sel darah putih dapat berkembang dengan teratur ketika tubuh membutuhkannya dalam mengatasi infeksi. Namun, saat terjadi leukimia, sumsum tulang belakang memproduksi sel darah putih yang tidak normal sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. Bila tidak tertangani dengan serius, penyakit ini dapat berbahaya bagi kesehatan, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

  • Anemia

Penyakit berikutnya yang bisa terdeteksi dari tes hematologi adalah anemia. Penyakit ini terjadi ketika kondisi tubuh kekurangan sel darah yang mengandung hemoglobin. Ketika mengalami penyakit ini, penderita akan merasa letih, lelah, dan tidak bisa berktivitas dengan baik. Untuk pencegahan, anemia dapat diobati melalui konsumsi suplemen secara rutin.

Itu dia beberapa penyakit yang dapat terdeteksi melalui tes hematologi. Oleh karena itulah, tetap jaga kondisi kesehatan tubuh dengan berolahraga mengkonsumsi makanan sehat dan menjaga pola hidup sehat secara teratur.

Konsultasi Onkologi untuk Pasien Kanker, Bagaimana Prosedurnya?

Konsultasi Onkologi untuk Pasien Kanker, Bagaimana Prosedurnya?

Onkologi masih terdengar cukup asing bagi sebagian orang. Istilah medis ini sebenarnya merujuk pada ilmu kedokteran yang khusus dalam diagnosis dan pengobatan kanker. Ahli onkologi atau onkolog ada yang dapat menangani semua bentuk kanker. Namun, ada juga yang khusus menangani satu jenis kanker saja. Meski begitu, ada prosedur onkologi yang harus Anda jalani ketika menjalani pemeriksaan. Berikut ulasannya yang bisa disimak.

Tujuan konsultasi onkologi

Konsultasi onkologi banyak memiliki manfaat bagi para pasien, yakni untuk memastikan apakah penyakit dan gejala yang diderita dapat segera ditangani ataukah membutuhkan perawatan atau pengobatan lanjutan. Tujuan lainnya adalah Anda dapat bertanya secara panjang lebar kepada dokter tanpa rasa ragu. Berikanlah informasi sebaik-baiknya dan sejelas-jelasnya kepada dokter terkait apa yang Anda rasakan.

Selain berkonsultasi mengenai gejala penyakit, Anda juga bisa berkonsultasi terkait pengobatan yang akan dijalani. Termasuk pula dalam memilih rumah sakit maupun klinik terbaik untuk memperoleh pengobatan yang dianjurkan tersebut.

Peralatan yang digunakan

Dari segi dokter dan penanganan medis, beberapa peralatan dalam prosedur onkologi di antaranya adalah rontgen, USG, dan endoskopi untuk memeriksa saluran pencernaan hingga CT scan. Tidak ketinggalan pula klinik maupun rumah sakit harus memiliki MRI yang memadai dan pemeriksaan penunjang lainnya.

Mengingat penyakit kanker memiliki ragam gejala, seorang ahli onkolog penting untuk mengetahui riwayat medis sang pasien dengan sistematis dan lengkap. Salah satunya dengan menggunakan pemeriksaan sampel yang didapat dari pengangkatan sel tumor maupun biopsi.

Apa yang harus Anda siapkan?

Saat menjalani prosedur onokologi, Anda pun perlu melakukan persiapan tersendiri agar prosesnya menjadi lancar. Oleh karena itulah Anda perlu untuk mencatat semua gejala yang dialami. Contohnya seperti sejak kapan Anda mengalami gejala tersebut, termasuk pula obat-obatan yang sudah Anda konsumsi.

Persiapan mental dan emosi juga penting untuk Anda perhatikan. Sebab, beberapa orang mungkin akan sedikit terguncang ketika mendapatkan diagnosis kanker dari dokter. Mengatasi hal ini, Anda perlu menggunakan pendekatan psikologi dan emosional. Untuk hal ini, Anda bisa mengajak orang terdekat Anda. Dengan cara ini, Anda akan merasa sedikit lebih tenang.

Bagaimana cara kerja dan prosedurnya?

Prosedur konsultasi onkologi biasanya diawali dengan dokter spesialis kanker. Dokter spesialis ini akan memeriksa riwayat kesehatan Anda. Riwayat kesehatan ini biasanya meliputi hasil tes sebelumnya. Termasuk pula hasil MRI, CT scan, tes darah, biopsi, maupun tes lainnya yang mendukung proses onkologi. Lalu, Anda jangan lupa untuk membawa semua obat-obatan yang dikonsumsi. Baik itu berupa suplemen, makanan, vitamin maupun produk obat-obatan lainnya.

Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan dari tes, spesialis kanker akan memberikan konfirmasi diagnosis apakah Anda positif terkena kanker atau tidak. Dokter mungkin saja akan meminta menjalani tes tambahan. Di sinilah Anda bisa megajukan keluhan yang dirasakan.

Keluhan yang Anda sampaikan dalam prosedur konsultasi akan menjadi pertimbangan dokter dalam mengajukan rencana pengobatan. Bila kanker dalam diri Anda tidak bisa diembuhkan, dokter akan menyarankan pengobatan dan membantu Anda beradaptasi. Untuk menghindari risiko, Anda harus mengutarakan keluhan yang Anda rasakan dengan sejelas-jelasnya agar dokter dapat memberikan penanganan yang terbaik.

Kini, Anda sudah tahu prosedur onkologi bagi pasien kanker. Dengan mengetahui prosedur onkologi tersebut, tentu akan memudahkan Anda ketika sedang menjalani pemeriksaan. Anda pun semakin tenang dan pemeriksaan dapat berjalan dengan baik.

Panduan Tes Skrining Kanker Berdasarkan Usia

Panduan Tes Skrining Kanker Berdasarkan Usia

Tes skrining merupakan pemeriksaan yang dapat Anda lakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan. Tes skrining tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mengidap suatu penyakit tertentu, misalnya kanker, namun ditujukan untuk siapa saja yang peduli terhadap kesehatannya.

Tes skrining umumnya dilakukan sebagai pemeriksaan dini untuk mendeteksi apakah ada kanker yang mungkin saja tumbuh di dalam tubuh Anda, mengingat beragam jenis kanker tidak dapat terdeteksi jika masih pada stadium-stadium awal. Kanker, apapun jenisnya, akan memunculkan gejala dan biasanya baru ketahuan setelah setidaknya berada pada stadium tiga ke atas.

Oleh karena itu, adanya tes skrining mampu membantu Anda mendeteksi kanker sedini mungkin sebelum sel tersebut menyebar dan semuanya menjadi terlambat. Simak panduan dari AHCC untuk tes skrining kanker berdasarkan usia berikut ini.

Usia 21-29 tahun

Tes skrining untuk laki-laki usia 21-29 tahun biasanya berupa pengujian kanker usus besar. Skrinning ini dilakukan untuk mengetahui apakah Anda berisiko terkena kanker usus besar karena riwayat keluarga, kelainan genetik, atau faktor lainnya.

Untuk perempuan, tes skrining yang dilakukan meliputi tes kanker payudara, kanker serviks, dan kanker usus besar. Wanita usia 21 tahun ke atas juga sudah mulai diwajibkan untuk tes pap smear setiap tiga tahun sekali untuk mengetahui kemungkinan adanya risiko kanker serviks.

Usia 30-39 tahun

Tes skrining untuk laki-laki usia 30-39 tahun masih hanya seputar kemungkinan adanya faktor risiko kanker usus besar sebagai akibat dari adanya kelainan genetik, faktor keturunan, maupun faktor eksternal lainnya.

Sedangkan untuk perempuan pada usia yang sama, tes kanker payudara wajib dilakukan untuk mengetahui adanya faktor risiko, terlebih jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan penyakit yang sama. Tes kanker serviks melalui pemeriksaan pap smear juga tetap harus rutin dilakukan tiap tiga tahun sekali untuk wanita yang sudah menikah dan lima tahun sekali untuk wanita yang belum menikah. Tes kanker usus besar juga dilakukan untuk wanita usia ini.

Usia 40-49 tahun

Memasuki usia ini, laki-laki dengan faktor risiko kanker usus besar wajib melakukan tes skrining kanker usus besar. Ini untuk melihat apakah di tubuh Anda ada kemungkinan tumbuhnya sel kanker. Sedangkan untuk laki-laki yang tidak punya faktor risiko, tes skrining hanya berfungsi untuk mengetahui apakah ada kemungkinan Anda terjangkit kanker usus besar. Pria yang berusia 40 hingga 45 tahun juga wajib melakukan tes skrining untuk kanker prostat. Terlebih jika ada riwayat keluarga kanker prostat di usia 65 tahun ke bawah.

Untuk wanita usia 40-49 tahun, tes skrining masih dilakukan untuk pengujian apakah adanya kemungkinan Anda terkena kanker payudara, kanker serviks, dan kanker usus besar. Untuk deteksi kanker payudara di umur 40 tahun lebih disarankan untuk melakukan skrining kanker payudara dengan tes Mammografi.

Usia 50-64 tahun

Laki-laki maupun wanita yang sudah memasuki usia 50-64 tahun memiliki tanggung jawab yang lebih tinggi untuk melakukan tes skrining. Laki-laki wajib tes kanker usus besar, tes kanker prostat, dan kanker paru. Wanita wajib tes untuk kanker payudara, kanker serviks, kanker usus besar, dan kanker paru.

Tes untuk kanker paru dilakukan untuk mengetahui kondisi paru Anda, terlebih jika Anda memiliki kebiasaan merokok selama tahun-tahun sebelumnya. Melalui tes skrining, Anda bisa tahu kondisi paru-paru Anda dan berkonsultasi pada dokter, langkah apa yang harus dilakukan ke depannya untuk tetap hidup sehat.

Usia 65 tahun ke atas

Wanita dan laki-laki yang berada di usia 65 tahun ke atas wajib melakukan tes skrining yang sama pada usia sebelumnya. Jika Anda sudah rutin melakukan tes skrining di usia-usia sebelumnya, maka sebaiknya tetap lanjutkan kebiasaan tersebut. Namun, jika Anda belum pernah melakukan tes skrining sebelumnya dan saat ini sudah memasuki usia 65 tahun ke atas, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.

Semakin Anda bertambah usia, semakin menurun pula kemampuan organ tubuh untuk menopang kehidupan. Jika Anda tidak menerapkan gaya serta pola hidup sehat, bukan tidak mungkin penyakit akan lebih cepat datang. Jangan perburuk kondisi tersebut dengan malas melakukan tes skrining. Konsultasilah pada dokter dan ketahui langkah apa yang sebaiknya dilakukan untuk membuat Anda setidaknya bisa hidup sampai umur yang diinginkan.